Kehendak Allah Atas Pernikahan

Bacaan hari ini: 1 Korintus 7:1-19

“Dan jikalau ia bercerai, ia harus tetap hidup tanpa suami atau berdamai dengan suaminya…” (1 Korintus 7:11)

Untuk memahami surat Paulus kepada jemaat di Korintus, kita harus mengerti latar belakang permasalahan penulisan surat ini. Salah satu permasalahan yang disoroti Paulus adalah adanya kecemaran dalam jemaat. Jemaat gereja yang berlatar-belakang agama-agama bukan Kristen, bertobat dan menerima Yesus berkat pelayanan Paulus di Korintus selama 18 bulan (Kis. 18:11). Kira-kira 3 tahun kemudian, Paulus mendapat kabar dan laporan bahwa jemaat masih tidak memisahkan diri secara konsisten dari kebiasaan dan budaya Korintus. Dengan kata lain, jemaat gereja di Korintus masih mempraktekkan kecemaran, yaitu kebejatan seksual. Oleh sebab itu, Paulus memberikan arahan dan nasihat mengenai perkawinan. Paulus membahas tentang perkawinan karena bahaya percabulan dalam jemaat, sebagaimana dikisahkan pada pasal-pasal sebelumnya (ps. 5 dan 6).

Hubungan seksual yang amoral memang dosa, tetapi sepasang suami istri halal melakukannya karena merupakan tanggung jawab keduanya untuk memenuhi kewajiban terhadap pasangan. Bukan hanya sebagai hak istimewa suami dan kewajiban istri saja, tetapi masing-masing pihak wajib menunjukkan kasih sayangnya secara fisik terhadap pasangannya, dengan maksud untuk menyenangkan atau memuaskan pasangannya (ay. 3-4). Relasi seksual merupakan berkat Allah, bukan beban apalagi kutuk. Terlebih lagi, relasi seksual yang sehat dapat mencegah kehidupan seksual yang amoral.

Isu selanjutnya adalah perceraian. Sepasang suami istri Kristen tidak boleh bercerai karena alasan apa pun (ay. 12-13). Jika terjadi perpisahan, mereka tidak boleh menikah lagi dengan orang lain. Yang boleh dilakukan hanya mengadakan rekonsiliasi dengan pasangan mereka sebelumnya.

Nas ini memperlihatkan kepada kita bahwa Allah memandang serius suatu pernikahan, maka begitu pula orang beriman seharusnya. Pernikahan merupakan kesatuan antara seorang pria dan seorang wanita yang bersifat permanen, sehingga tak seorang pun yang berhak memutuskan.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s