Mengenal Jenis “Dukacita”

Bacaan hari ini: 2 Korintus 7:1-16

“Sebab dukacita menurut kehendak Allah menghasilkan pertobatan yang membawa keselamatan dan yang tidak akan disesalkan, tetapi dukacita yang dari dunia ini menghasilkan kematian.” (2 Korintus 7:10)

Dukacita tidak bisa dilepaskan dari kehidupan manusia, termasuk orang percaya. Dukacita muncul terutama ketika seseorang mengalami situasi kehidupan yang menekannya atau kehilangan sesuatu/seseorang yang berharga dalam hidupnya. Pada bagian firman Tuhan ini, Paulus membicarakan tentang dukacita yang bukan sekadar dukacita seperti yang dikenal dunia. Dukacita ini disebut sebagai dukacita menurut kehendak Allah atau dukacita rohani. Apa itu “dukacita rohani”?

Bagian firman Tuhan ini menunjukkan dua hal yang merupakan ciri-ciri dukacita rohani.

Pertama, dukacita rohani adalah dukacita karena dosa yang diperbuat seseorang dalam hidupnya.

Dukacita ini muncul karena dia menyadari telah mendukakan Tuhan melalui perbuatannya tersebut. Hal ini berbeda dengan dukacita karena dosa seperti yang ditunjukkan dunia; seseorang berduka karena dosanya, karena dia mendapat konsekuensi yang jelek akibat dosanya. Dia tidak menyesali dosanya di hadapan Tuhan, dia berduka hanya karena mengalami sesuatu yang buruk, sebagai akibat perbuatan dosanya. Atau, dia menjadi malu karena dosanya ketahuan di hadapan banyak orang, sehingga dia berduka. Jadi dukacita rohani tidak bersifat egois, tetapi dalam relasi antara dirinya dan Tuhan.

Kedua, dukacita rohani mengakibatkan pertobatan.

Hal ini berbeda dengan dukacita duniawi yang bersifat egois. Dukacita yang bersifat egois bisa mengakibatkan seseorang tidak meninggalkan dosanya, tetapi hanya lebih berhati-hati melakukannya agar ia tidak mendapatkan konsekuensi yang jelek, atau agar tidak ketahuan. Contoh yang jelas dari dukacita rohani yang menghasilkan pertobatan adalah kisah Raja Daud yang ditegur Nabi Nathan, karena telah berzinah dengan Batsyeba dan membunuh Uria (2Sam. 11-12). Teguran Nathan mengakibatkan Daud menyadari dosanya di hadapan Tuhan, sehingga ia memohon pengampunan dari Tuhan, dan mau meninggalkan tindakannya yang jahat itu.

Bagaimanakah dengan kita? Dukacita rohani yang sejati lahir dari kehidupan seorang percaya yang dekat dengan Tuhan.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s