Kesaksian Sang Rasul

Bacaan hari ini: 2 Korintus 11:22-33

“Apakah mereka pelayan Kristus? –aku berkata seperti orang gila–aku lebih lagi! Aku lebih banyak berjerih lelah; lebih sering di dalam penjara; didera di luar batas; kerap kali dalam bahaya maut.” (2 Korintus 11:23)

Hari ini kita sering mendengar orang-orang sharing pengalaman mereka akan pertolongan Tuhan, kuasa dan mujizat-Nya, mulai dari kesembuhan sampai berkat materi yang luar biasa. Si A men-sharingkan bagaimana dokter memvonisnya “kanker stadium 4”, tapi dengan iman dia berdoa puasa minta kesembuhan Tuhan dan sekarang dia tetap hidup sehat. Si B mensharingkan kebakaran di kompleks pertokoan dan banyak toko yang habis terbakar, tapi tokonya terluput karena pertolongan Tuhan; api berhenti persis di toko yang bersebelahan dengan tokonya. Si C juga sharing, dia pernah mengalami kesulitan besar dalam usaha; hutang numpuk tidak terbayar, lalu dia mulai tekun ke gereja, baca alkitab, memberi perpuluhan dan mujizat terjadi.

Betapa bertolak belakangnya kesaksian seperti itu dengan apa yang dialami Paulus. Sekiranya bagian dari surat Korintus ini sesekali dibacakan di hadapan jemaat supaya kita bisa membandingkan betapa berbedanya pengalaman Paulus—dan juga rasul-rasul lainnya—dengan pengalaman orang Kristen pada hari ini. Memang sangat bisa dimengerti bahwa pada masa awal kekristenan berkembang, tekanan dan aniaya terjadi secara luar biasa, berbeda dengan kondisi hidup sekarang di mana orang memilih agama dengan bebas, bahkan dilindungi hukum. Memang benar bahwa Allah kita adalah sumber segala berkat dan kebaikan, dan kuasa-Nya tidak pernah berubah sejak dahulu sampai selamanya.

Tapi bagaimanapun, kita tidak boleh mengabaikan esensi dari Injil yang sejati, yang menuntut setiap orang yang mengalaminya untuk hidup menyangkal diri, memikul salib dan mengikut Kristus. Orang berdosa diselamatkan oleh anugerah, diampuni dan diterima sebagai anak. Konsekuensi karya penebusan ini adalah; hidupku bukannya aku lagi, tetapi Kristus yang hidup di dalam aku.

Bagi Paulus, yang penting bukanlah mengalami berbagai mujizat dan menyaksikannya kepada orang banyak, tetapi mau mengerjakan apa yang Tuhan rencanakan dalam hidupnya dan menjadi berkat. Bagaimana dengan Anda?

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s