Kasih Dalam Rumah Tangga

Bacaan hari ini: Efesus 5:22-33
“Ucaplah syukur senantiasa atas segala sesuatu dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus kepada Allah dan Bapa kita dan rendahkanlah dirimu seorang kepada yang lain di dalam takut akan Kristus.” (Efesus 5:20-21)

Semua manusia memiliki kebutuhan dasar, yaitu dicintai. Suatu ketika dalam masa hidup kita, kita bertemu dengan seseorang yang kita cintai dan mencintai kita. Momen ini merupakan momen yang sangat membahagiakan. Setelah kita bertemu dengan seseorang yang berjanji mencintai kita, kita akan diikat dalam ikatan rumah tangga. Sebelum dan sesudah seseorang menjadi suami/istri, kehidupannya tentu sangat berbeda. Tanggung jawab yang lebih, diembankan kepada kita yang sudah berumah tangga. Renungan hari ini ditujukan bagi setiap kita yang sudah berumah tangga, maupun bagi yang belum berumah tangga, supaya kelak kita dapat menjadi suami atau istri yang berkenan di hati Tuhan.

Di dalam Efesus 5:22 dikatakan, “Hai istri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan.” Pada bagian ini, Paulus hendak menegur para istri yang bersikap tidak hormat kepada para suami. Sebagaimana seorang manusia biasa, para suami tentulah juga manusia yang tidak sempurna dan memiliki kekurangan, namun demikian sebagai seorang penolong dari Tuhan, seorang istri harus menghargai suami dan berusaha memahami semua keputusan yang diambilnya.

Tidak hanya menegur para istri yang tidak hormat kepada suami, di sini Paulus juga menegur para suami yang tidak mengasihi istri. Firman Tuhan berbicara sangat keras kepada mereka yang suka bersikap seenaknya terhadap istri, kepada mereka yang suka memaksakan kehendak kepada istri. Efesus 5:25, “Hai suami, kasihilah istrimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya.” Di sini, Tuhan menuntut para suami untuk rela mengorbankan kepentingan dan keinginan dirinya bagi kepentingan istri. Dalam rumah tangga, suami haruslah lebih memikirkan istrinya, daripada pihak-pihak luar lainnya, “Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging.” Bagi kita yang akan berumah tangga, marilah kita mempersiapkan diri dan melatih diri untuk bisa menjadi istri atau suami yang baik.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s