Jangan “Murtad”! Belajarlah Setia!

Bacaan hari ini: Ibrani 3:1-19
“Tetapi Kristus setia sebagai Anak yang mengepalai rumah-Nya, dan rumah-Nya ialah kita …” (Ibrani 3:6)

Tuhan Yesus menghendaki agar setiap kita (umat-Nya) bertumbuh dalam iman kita, semakin dewasa di dalam Dia, dan serupa dengan-Nya. Untuk mencapai kedewasaan rohani tersebut, itu bukanlah hal yang mudah; bahkan dalam perjalanan kekristenan kita, seringkali kesulitan membuat kita putus asa dan meragukan kesetiaan Tuhan dalam menyertai kita.

Namun dalam tulisannya, penulis Kitab Ibrani ini mengajak kita untuk mengenal, bahwa sesungguhnya Kristus itu, bukan saja lebih tinggi dari Musa, tapi juga lebih setia, yaitu “setia dalam mengepalai rumah-Nya (kita)” (ay. 6). Apa artinya ini bagi kita? Penulis Kitab Ibrani hendak meyakinkan, bahwa kita yang telah menjadi milik-Nya, tidak akan pernah dibiarkan-Nya terhilang; atau Dia tidak akan membiarkan kita kehilangan keselamatan (bdk. Yoh. 6:37-40). Lalu, apakah ini berarti kita bebas berbuat dosa karena Kristus setia dalam menjaga kita?

Apabila ini pemikiran kita, maka kita belum mengenal-Nya dengan benar. Kesetiaan Kristus terhadap “rumah-Nya,” bukan berarti kesempatan bagi kita untuk hidup dalam dosa. Yang Kristus kehendaki, adalah bahwa kita belajar setia dan percaya akan pengharapan yang Ia janjikan kepada kita, sekalipun untuk sementara (dalam dunia ini) kita akan mengalami penderitaan. Janganlah kita menjadi tawar hati, bahkan hati kita beralih memikirkan yang jahat. Istilah “murtad” yang dipakai penulis Kitab Ibrani ini menunjukkan “ketidakpercayaan dan kesetiaan kita kepada Kristus,” sekalipun istilah ini juga berarti “meninggalkan iman.” Namum dalam konteks pasal 3 ini, nampaknya istilah “murtad” ini lebih mengacu kepada ketidakpercayaan dan kesetiaan kita kepada Kristus, daripada kepada menyangkali iman (orang di luar Kristus). Dengan kata lain, penulis Kitab Ibrani memperingatkan kita, jika Tuhan menegur karena ketidaksetiaan kita atau ketidakpercayaan kita, marilah kita tidak mengeraskan hati, melainkan belajar untuk mau setia dan percaya kasih setia-Nya; sehingga kita boleh mendapatkan berkat-Nya pada waktu-Nya.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s