Sukacita Ilahi

Bacaan hari ini: 2 Yohanes 1:4-6
“Dan inilah kasih itu, yaitu bahwa kita harus hidup menurut perintah-Nya. Dan inilah perintah itu, yaitu bahwa kamu harus hidup di dalam kasih, sebagaimana telah kamu dengar dari mulanya.” (2 Yohanes 1:6)

Dalam kehidupan sehari-hari, kita begitu mudah merasa senang karena orang lain suka kepada kita, karena kita adalah teman bicara yang baik, pendengar yang baik. Kita begitu senang pada saat sesama kita memberikan sesuatu, sebagai bukti kasihnya kepada kita. Kita begitu bergembira pada saat sesama kita menolong dalam masa-masa sulit yang kita hadapi. Tentu perasaan senang, gembira karena kondisi-kondisi di atas tidak salah, tetapi ada satu sukacita ilahi yang Tuhan ingin kita miliki.

Dalam ayat 4, Yohanes bersukacita karena ada orang percaya yang sungguh bertekun dan hidup dalam kebenaran Allah. Orang yang hidup dalam kebenaran Allah tersebut selalu rindu untuk melakukan firman Tuhan. Firman Tuhan yang adalah kebenaran Allah itu mewarnai seluruh kehidupannya. Segala perkataannya, perbuatannya, tingkah lakunya, pola pikirnya, pertimbangan-pertimbangannya dan cara mengambil keputusan dalam hidupnya, seluruhnya dikuasai oleh Firman Tuhan. Orang percaya seperti demikian adalah seorang yang hidup di dalam terang Firman Tuhan.

Secara praktis, orang yang hidup dalam kebenaran Allah, menyatakan kasihnya kepada sesamanya (ay. 5-6). Kasihnya kepada Allah, dinyatakan dengan mengasihi sesamanya. Ini juga yang diajarkan oleh Tuhan Yesus sebagai hukum yang terutama bagi umat Allah (Mat. 22:37-39).

Saat kita sebagai orang-orang percaya, menyaksikan bahwa diri kita maupun sesama kita hidup di dalam kasih, sukacita ilahi akan memenuhi hati kita. Sukacita ilahi ini tidak ada bandingnya dengan hal yang lainnya. Kebenaran Allah akan semakin nyata dan juga tampak melalui kehidupan kita sebagai murid-murid Kristus. Sukacita karena hidup di dalam kebenaran Allah, sukacita karena hidup di dalam kasih kepada sesama, adalah sebagai bukti kasih kita kepada Allah. Itulah sukacita ilahi yang Allah rindukan untuk kita miliki sebagai anak-anak-Nya.

Bagaimanakah dengan Saudara pada saat ini? Marilah kita meletakkan kepuasan kita pada sukacita Ilahi.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s