Kasih vs Menonjolkan Diri

Bacaan hari ini: 3 Yohanes 1:1-15
“Saudaraku yang kekasih, engkau bertindak sebagai orang percaya, di mana engkau berbuat segala sesuatu untuk saudara-saudara, sekalipun mereka adalah orang-orang asing.” (3 Yohanes 1:5)

Dalam Perjanjian Baru, ada 3 orang bernama Gayus, yaitu: Gayus orang Makedonia yang ikut dalam perjalanan misi Paulus ketika terjadi kekacauan di Efesus (Kis. 19:29), Gayus orang Derbe yang juga ikut menyertai Paulus (Kis. 20:4), Gayus yang memberi tumpangan kepada Paulus ketika berada di Roma, satu dari antara sedikit orang yang dibaptis oleh Paulus (Rm.16:23; 1 Kor.1:14). Nampaknya, nama Gayus ini adalah nama yang umum, jadi mungkin surat ini ditujukan kepada Gayus yang lain, yang tinggal di kota lain dalam kumpulan jemaat lain.

Isi dari surat ini menceritakan tentang sekelompok orang Kristen— kemungkinan ialah jemaat yang dilayani Yohanes—yang sedang menjalani pelayanan misi dan nampaknya singgah di jemaat di tempat Gayus juga beribadah. Gayus dengan kerelaan kasihnya telah menerima mereka, melayani mereka dengan baik, sampai ketika rombongan ini kembali, mereka menyaksikan kebaikan yang Gayus lakukan. Dan Yohanes menulis surat ini, memuji praktik nyata kasih Gayus. Kontras dengan kebajikan Kristen yang dilakukan Gayus, adalah sikap kesombongan dari Diofretes yang karena ingin dianggap sebagai pemimpin, menunjukkan diri berkuasa dengan menolak untuk mengakui, apalagi menerima mereka.

Surat-surat Perjanjian Baru menekankan tentang hal memberi tumpangan, baik kepada orang asing apalagi kepada sesama saudara seiman (Rm. 12:13; Ibr. 13:2; 1Ptr. 4:9). Di zaman itu, memberi tumpangan adalah suatu praktek kebajikan yang umum dilakukan, karena kondisi tempat penginapan yang sangat tidak memadai, sama sekali tidak sama dengan hotel-hotel berbintang hari ini. Kebaikan yang dinyatakan melalui keramah-tamahan dalam memberi tumpangan, banyak dilakukan orang pada masa itu. Praktek kasih yang nyata dari kehidupan Kristen tidak boleh di bawah standar ini! Sebaliknya, waspadai sindrom Diotrefes yang karena ingin menonjolkan diri, ingin dianggap orang terkemuka, justru dengan sikap yang pongah tidak mau mengakui dan menolak sekelompok jemaat yang sedang dalam perjalanan misi.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s