Jerat Kekayaan dan Kenikmatan Dunia

Bacaan hari ini: Wahyu 18:1-24
“Pergilah kamu, hai umat-Ku … jangan mengambil bagian dalam dosa-dosanya, dan supaya kamu jangan turut ditimpa malapetaka-malapetakanya.” (Wahyu 18:4)

Babel digambarkan sebagai sebuah kota yang maju secara ekonomi. Berbeda dengan perenungan kita kemarin, hari ini Babel digambarkan sebagai kota perdagangan, kota perdagangan yang dipenuhi dengan keserakahan dan semangat mencari keuntungan pribadi (bdk. Why. 18:11-13). Babel di pasal ini menggambarkan kombinasi sistem agama, pemerintahan, dan perdagangan yang tidak lagi sesuai dengan kebenaran Tuhan. Dengan kata lain, Babel di sini memiliki maksud yang sama dengan dunia yang sudah jatuh dalam dosa ini.

Di ayat 1 dikatakan, malaikat turun dari sorga berarti malaikat ini baru saja berada dalam hadirat Allah, dan karena ia datang, bumi menjadi terang oleh kemuliaannya. Malaikat ini datang dan menyampaikan penghakiman Babel, “Sudah rubuh, sudah rubuh Babel…” (ay. 2). Babel yang merupakan tempat kediaman roh-roh jahat, di mana kenajisan berdiam, menerima hukuman Allah. Dosa Babel di pasal ini ditekankan karena keserakahan, kesombongan, keegoisan dan kelimpahan hawa nafsunya.

Babel diruntuhkan dan tidak akan bangkit lagi; penghakiman final telah Tuhan jatuhkan kepada Babel. “Demikianlah Babel, kota besar itu akan dilemparkan dengan keras ke bawah, dan ia tidak akan ditemukan lagi” (ay. 21b). Penghukuman Tuhan kepada Babel sungguh tidak main-main dan berat. Mereka yang berani melawan Tuhan akan menerima akibatnya pada akhirnya. Mereka yang melawan Allah dan umat-Nya akan mendapat pembalasan (bdk. Why. 18:24).

Why. 18:4 menunjukkan bahwa ada kemungkinan umat Allah pun bisa saja menjadi bagian dari Babel. Allah mengingatkan umat-Nya bahwa mereka harus tetap waspada dengan jerat kekayaan dunia. Allah terus memperingatkan umat-Nya supaya tidak turut tertimpa malapetaka yang menjadi bagian Babel. Kita sebagai umat Allah perlu menjaga diri agar kita tidak terjerat oleh iming-iming dunia, termasuk kenikmatan dunia, mengejar hal-hal yang fana dan sia-sia. Tuhan memberi kita berkat, tetapi janganlah kita membuat berkat itu menjadi Tuhan atas kita.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s