Hukuman dan Kasih Tuhan

Bacaan hari ini: Imamat 26:14-46
“Jika hidupmu bertentangan dengan Daku dan kamu tidak mau mendengarkan Daku, maka aku akan makin menambah hukuman atasmu sampai tujuh kali lipat setimpal dengan dosamu.” (Imamat 26:21)

 

Setelah janji berkat diberikan kepada bangsa Israel jika hidup taat dan berpegang pada ketetapan Tuhan (Im. 26:1-13), selanjutnya Tuhan memberi ketetapan-Nya bagaimana jika bangsa Israel tidak menaati ketetapan dan perintah Tuhan. Berulangkali (5 kali: ay.15,18,21,23-24,27-28) Tuhan mengingatkan bangsa Israel, jika mereka tidak mau mendengar dan tidak taat kepada perintah Tuhan, maka Tuhan akan mendatangkan hukuman kepada mereka. Peringatan Tuhan ini tidak main-main, dan jika kita perhatikan, hukuman Tuhan ini akan semakin berat jika Israel belum mau bertobat ketika diperingatkan (dihukum) oleh Tuhan: ayat 16-17: Aku akan mendatangkan kekejutan atasmu dan Aku sendiri akan menentang kamu. Ayat 18: Aku akan lebih keras menghajar kamu. Ayat 21: Aku akan makin menambah hukuman atasmu. Ayat 23: Akupun akan bertindak melawan kamu. Ayat 28: Akupun akan bertindak keras melawan kamu dan Aku sendiri akan menghajar kamu. Semua hal ini memang benar dilakukan oleh Tuhan, sampai pada hukuman yang amat berat yakni dihancurkannya Israel dan mereka hidup dalam pembuangan di Babel.

Apakah kita pernah mengalami peringatan (hukuman) Tuhan yang berulangkali dan makin berat? Mengapa Tuhan melakukan hal itu? Apakah Tuhan kejam dan semena-mena? Tentu tidak. Justru karena Tuhan sangat mengasihi kita. Hukuman yang Tuhan berikan sebenarnya sebagai suatu peringatan agar kita segera sadar dan bertobat, hidup menurut ketetapan Tuhan. Tuhan menyelamatkan kita dengan tujuan agar hidup kita memuliakan Tuhan. Ketika kita bertobat dan hidup taat, kita akan dapat menikmati kasih dan berkat Tuhan. Ayat 40-45 merupakan janji Tuhan, jika bangsa Israel bertobat maka Tuhan akan memulihkan mereka dan Tuhan tetap mengingat akan perjanjian yang telah Tuhan buat dan berikan melalui Abraham (Kej. 17:7-8), Ishak (Kej. 26:3-4) dan Yakub (Kej. 28:13-14).

Tuhan kita adalah Tuhan yang penuh kasih dan rahmat. Ia menjanjikan pengampunan, pemulihan dan berkat-Nya.

Mari kita segera sadar, bertobat jika karena kasih-Nya, Tuhan memperingatkan, atau menghukum kita.

Menerima Berkat Tuhan

Bacaan hari ini: Imamat 26:1-13
“Jikalau kamu hidup menurut ketetapan-Ku dan tetap berpegang pada perintah-Ku serta melakukannya, maka Aku akan memberi kamu hujan pada masanya, sehingga tanah itu memberi hasilnya…” (Imamat 26:3-4)

 

Di tengah segala peraturan dan perintah yang Allah berikan kepada Israel, Allah juga memberikan peringatan yang disertai dengan janji Allah ketika bangsa Israel mau dan mampu melaksanakan dengan setia kepada Allah. Allah sepertinya tidak ingin Israel melakukan peraturan yang ada dengan terpaksa, yang tanpa ada hasilnya. Namun dalam bagian ini, Allah merindukan bangsa Israel melakukan dengan senang hati, karena ada timbal balik dari Allah yang akan diberikan kepada bangsa Israel.

Pertama, Allah ingin bangsa Israel hidup taat kepada-Nya. Bangsa Israel terus diingatkan tentang siapa Allah yang harus mereka sembah (ay. 1). Hal ini dilakukan Allah karena Ia melihat bangsa Israel yang selalu kembali kepada tindakan mereka yang cenderung untuk menyembah ilah-ilah lain. Sehingga Allah terus-menerus mengingatkan bagaimana mereka harus menyembah hanya kepada Allah Israel saja, yang telah membawa mereka keluar dari tanah perbudakan bangsa Mesir (25:55). Sehingga, Allah menginginkan ketaatan mereka dengan tetap menjalankan perintah dan hukum-hukum yang telah diberikan kepada mereka (ay. 2). Kedua, ketaatan itu memberikan janji yang luar biasa. Perintah dan hukum yang diberikan Allah kepada bangsa Israel bukan tanpa tujuan, melainkan Allah sudah memberikan janji-janji-Nya kepada bangsa Israel ketika mereka mau taat dan melakukan firman dan ketetapan-ketetapan Tuhan (ay. 3-13). Janji yang diberikan bukanlah janji yang main-main, tapi janji di mana Allah akan memberkati segala hasil kerja yang dikerjakan (ay. 3-5), dijauhkan dari mara bahaya (ay. 6-8), bahkan keturunannya pun akan ikut merasakan berkat Tuhan (ay. 9-10). Semua itu akan didapatkan ketika bangsa Israel mau tunduk dan taat kepada perintah Allah.

Sungguh, berkat atas janji Allah yang luar biasa akan kita dapatkan, ketika kita benar-benar mau menyerahkan diri sepenuhnya untuk tunduk dan taat kepada perintah Tuhan. Ketika kita mau hidup seturut perintah dan firman Tuhan, kita dilayakkan untuk menerima berkat yang telah Tuhan janjikan kepada setiap kita.

Ajaran Tahun Sabat

Bacaan hari ini: Imamat 25:1-22
“Enam tahun lamanya engkau harus menaburi ladangmu… tetapi pada tahun yang ketujuh haruslah ada bagi tanah itu suatu sabat, masa perhentian penuh, suatu sabat bagi TUHAN….” (Imamat 25:3-4)

 

Sungguh luar biasa kasih karunia Tuhan melalui Tahun Sabat bagi manusia, memang bagi manusia tidak mungkin memikirkan hal yang demikian, sejak hari penciptaan Tuhan sudah memikirkan kebaikan ciptaan-Nya.

Hal pertama yang kita pelajari adalah, bagaimana kehidupan manusia bergantung kepada Pencipta yang memberi hasil panen kepada manusia, bukan pada kerja keras manusia itu sendiri.

Melalui Tahun Sabat, manusia yang beriman diajar untuk mengakui bahwa Tuhanlah yang memberikan istirahat kepada manusia dan alam ciptaan-Nya setelah berjerih lelah dalam segala usaha pekerjaan mereka, sekarang waktunya Tuhan ingin menusia menikmati hasil pekerjaannya, hidup secukupnya dari hasil yang sudah Tuhan berkati pada tahun-tahun sebelumnya.

Kedua, alam yang Tuhan ciptakan juga beroleh istirahat yang baik dari kerja kerasnya.

Hari ini ilmu pengetahuan pun memberitahukan kepada kita bahwa tanah yang terlalu sering dibajak dan ditanami terus-menerus, pada suatu saat, akan kehilangan kesuburan (gizi). Cara memperbaharui tanah agar bisa subur kembali adalah dengan membiarkan alam bekerja sendiri tanpa campur tangan manusia; dengan melalui “istirahat”, melalui mekanisme alam, tanah akan menggemburkan dirinya sendiri sehingga ia baik dipakai untuk bercocok tanam pada tahun yang akan datang. Tuhan memerintahkan hal ini, selain untuk memelihara kehidupan alam semesta, juga untuk kehidupan manusia di dunia ini, supaya tidak ada kerusakan lingkungan, dan lebih nyaman untuk tempat tinggal manusia.

Ketiga, pada tahun Sabat, tanah tetap akan mengeluarkan hasil dari dirinya sendiri (ay. 6-7), namun bukan hanya untuk yang punya, tetapi juga untuk ternak, budak bahkan orang asing. Artinya, hasil tanah di tahun Sabat adalah untuk semua makhluk, tanpa kecuali, punya hak yang sama untuk mengambilnya.

Dari sini, kita melihat perhatian Tuhan kepada orang-orang kecil, miskin, pendatang, dipelihara melalui tahun Sabat ini, dan mereka sama berharga di mata Tuhan, semua dikasihi dan dipelihara oleh-Nya.

Hukum yang Menghujat Tuhan

Bacaan hari ini: Imamat 24:10-23
“Engkau harus mengatakan kepada orang Israel, begini: Bacaan hari ini: Setiap orang yang mengutuki Allah harus menanggung kesalahannya sendiri.” (Imamat 24:15)

 

Salah satu dari ke-sepuluh Hukum Taurat yang diberikan TUHAN kepada Musa di Gunung Sinai, tertulis: “Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan, sebab TUHAN akan memandang bersalah orang yang menyebut nama-Nya dengan sembarangan.” Hukum ini melarang orang Israel menyebut nama TUHAN Allahnya, dengan sembarangan.

Namun apa yang tercatat di dalam Imamat 24:10-16, bukan sekadar menyebut nama TUHAN Allah Israel dengan sembarangan, melainkan lebih dari itu, yaitu “mengutuk” TUHAN Allah Israel. Kata “mengutuk” (Ibrani: qalal) yang dipakai dalam bagian ini, sama dengan kata “mengutuk” yang dikehendaki oleh Balak supaya Bileam mengucapkan itu (kutuk) kepada bangsa Israel. Kata kutuk ini diucapkan dengan kemarahan yang ditujukan kepada TUHAN Allah Israel. Di dalam kisah ini, orang yang mengutuk nama TUHAN Allah Israel, dilempari dengan batu sampai mati oleh seluruh jemaat Israel.

Kisah yang diceritakan di dalam bagian ini menjelaskan tentang prinsip dan identitas bangsa Israel yang didasarkan kepada kekudusan TUHAN. Di dalam kisah ini, TUHAN menghendaki agar setiap orang Israel, baik itu keturunan asli ataupun keturunan campuran yang hidup di tengah-tengah bangsa Israel, harus menghormati hukum dan peraturan TUHAN. Dengan menghormati serta melaksanakan hukum dan peraturan yang merupakan ketetapan TUHAN, maka seluruh bangsa itu akan hidup dan merasakan perlindungan TUHAN; sebaliknya, orang yang mengutuk TUHAN akan mendapatkan hukuman yang setimpal dengan perbuatannya.

Apa yang dapat kita pelajari dari kisah ini? Kisah ini sebenarnya ingin mengajarkan kita, bagaimana orang-orang Kristen masa kini seharusnya menghormati TUHAN dan menjaga kekudusan nama-Nya.

Dengan menghormati TUHAN dan menjaga kekudusan nama-Nya, orang percaya merasakan perlindungan dan pertolongan TUHAN setiap waktu.

Biarlah kita terus mengingat akan hal ini di dalam kehidupan kita.

Hiduplah Kudus di Hadapan Tuhan

Bacaan hari ini: Imamat 24:1-9
“Setiap hari Sabat ia harus tetap mengaturnya di hadapan Tuhan; itulah dari pihak orang Israel suatu kewajiban perjanjian untuk selama-lamanya.” (Imamat 24:8)

 

Umat Tuhan dituntut untuk hidup kudus bukan hanya supaya Tuhan dimuliakan, melainkan karena Allah yang kita sembah adalah Allah yang kudus. Adapun, kitab Imamat sangat banyak berbicara perihal kekudusan, bahkan dikatakan bahwa hal kekudusan adalah penekanan utama kitab Imamat. Ini terlihat dalam catatan Imamat 11:44-45a: “Sebab Akulah TUHAN, Allahmu, maka haruslah kamu menguduskan dirimu dan haruslah kamu kudus, sebab Aku ini kudus, dan janganlah kamu menajiskan dirimu dengan setiap binatang yang mengeriap dan merayap di atas bumi. Sebab Akulah TUHAN, Allahmu, maka haruslah kamu menguduskan dirimu dan haruslah kamu kudus, sebab Aku ini kudus…”

Melalui pasal 24:1-9 ini, kita dapat melihat perihal peraturan ritual yang diberikan oleh Allah kepada umat Israel dan para imam dalam kerangka kekudusan. Hal tentang kekudusan terlihat sangat jelas ketika apa yang diperintahkan Tuhan untuk dilakukan, menggunakan hal-hal yang terbaik atau murni. Seperti yang dinyatakan bahwa hanya minyak zaitun murni yang boleh dipakai untuk menyalakan lampu di kemah suci, dan para imam bertanggung jawab memelihara agar api tersebut tetap menyala. Juga, roti sajian harus dibuat dari tepung terbaik dan harus dipersembahkan kepada Tuhan dengan kemenyan tulen sebagai kurban api-apian bagi Tuhan dan hanya imam yang boleh memakan roti tersebut, yaitu pada setiap sabat ketika roti yang lama diganti dengan roti yang baru.

Peraturan dan ritual tersebut memang tidak lagi berlaku bagi umat Tuhan pada masa kini. Namun, prinsip kekudusan tetap mengikat umat Allah di sepanjang masa. Satu hal yang perlu diingat sebagai umat Allah bahwa kekudusan adalah hal yang tidak dapat dikompromikan, tidak dapat ditawar. Itulah sebabnya, sebagai umat Allah yang sudah ditebus dan dikuduskan oleh karya penebusan dalam Kristus Yesus, sudah seharusnya kita menjaga hidup kudus di hadapan Tuhan.

Kiranya kita terus-menerus dimampukan dalam menjaga dan mempraktikkan hidup kudus selama hidup di dalam dunia ini.

Pelayan yang Kudus

Bacaan hari ini: Imamat 21:24
“Ia harus kudus bagimu, sebab Aku, TUHAN, yang menguduskan kamu adalah kudus.” (Imamat 21:8b)

 

Hukum-hukum kekudusan yang dituliskan dalam pasal-pasal sebelumnya ditujukan kepada seluruh umat Israel secara umum. Pasal ini secara khusus ditujukan untuk para pelayan Tuhan, yaitu para imam. Imam merupakan pemimpin umat, karena itu seorang imam harus bisa menjadi teladan, baik dalam melakukan tugas mereka maupun dalam kehidupan mereka. Oleh sebab itulah Allah menetapkan standar yang lebih tinggi bagi mereka daripada para umat lain. Para imam harus memisahkan diri dari semua kebiasaan orang fasik dan menjalani hidup yang tidak bercacat di hadapan Allah. Allah mau orang-orang yang menjadi pemimpin umat dan pelayan Tuhan adalah orang-orang yang memiliki kehidupan yang kudus.

Peraturan mengenai imam dalam perikop ini dibagi menjadi dua: ayat 1-9 menetapkan peraturan yang berlaku bagi semua imam, ayat 10-15 berisi peraturan mengenai imam besar. Imam dilarang menyentuh mayat, kecuali mayat kerabat dekat, itu pun membuat imam tersebut menjadi najis tujuh hari lamanya (1-4); dilarang meratapi orang mati, karena diangap mengikuti kebiasaan orang kafir waktu itu (5); dilarang menikahi perempuan yang bukan perawan (7-9). Dan peraturan-peraturan yang diberikan bagi imam besar lebih ketat lagi: tidak boleh menerapkan tanda-tanda dukacita, dan tidak boleh menajiskan diri dengan mayat apa pun (11); dilarang keluar dari tempat kudus untuk menghadiri upacara orang mati (12); istri mereka harus sebangsa (13-14). Pada bagian akhir pasal ini, ditekankan bahwa seorang imam yang mempersembahkan korban haruslah seorang yang memiliki fisik yang tak bercacat (16-24). Peraturan ini mengingatkan tentang binatang kurban yang dipersembahkan kepada Allah haruslah tanpa cacat, demikian pula para imam yang mempersembahkannya, juga harus tanpa cacat.

Sebagai umat Tuhan, kita juga dipanggil untuk melayani. Dan sebagai pelayan Tuhan, kita juga harus memiliki hidup yang bisa menjadi teladan bagi orang lain. Janganlah kita melayani Tuhan namun perilaku keseharian kita penuh cacat-cela.

Kemah Belas Kasihan

Bacaan hari ini: Imamat 17:1-9
“…kepada TUHAN ke pintu Kemah Pertemuan dengan menyerahkannya kepada imam, untuk dipersembahkan kepada TUHAN sebagai korban keselamatan.” (Imamat 17:5b)

 

Dalam bagian ini, TUHAN mau agar setiap orang Israel membawa korban sembelihan ke pintu Kemah Pertemuan. Darah dari korban sembelihan harus disiramkan pada mezbah TUHAN, yang ada di depan pintu Kemah Pertemuan, lemaknya dibakar menjadi bau yang menyenangkan TUHAN (ay. 5-6). Yang lebih penting dari semua ini, korban sembelihan ini adalah korban keselamatan dari TUHAN (ay. 4). Melalui korban sembelihan ini, Allah menyatakan bahwa telah terjadi perdamaian antara Allah dengan umat-Nya, syalom, yang berasal dari Allah, turun ke atas umat-Nya, oleh karena perkenanan Allah atas umat-Nya. Perkenanan di sini bukan berarti umat-Nya yang memenuhi syarat untuk diperkenan oleh Allah. Tetapi, Allah lah yang mencurahkan belas kasihan, kasih karunia serta rahmat-Nya bagi umat-Nya, sehingga Allah berkenan atas korban sembelihan umat-Nya dan atas diri umat-Nya. Di depan pintu Kemah Pertemuan, di atas mezbah TUHAN, Allah menyatakan belas kasihan dan perkenanan-Nya atas umat-Nya, Israel. Korban sembelihan akan menjadi korban keselamatan jika dipersembahkan di pintu Kemah Pertemuan dan darahnya dicurahkan di atas mezbah TUHAN.

Dalam Kristus, Anak Allah yang sempurna menjadi korban sembelihan yang mendatangkan syalom dari Allah bagi kita, yang tadi berstatus orang berdosa, namun sekarang berstatus orang benar. Melalui Kristus, satu-satunya Juruselamat dunia, kita boleh mendapat keselamatan kekal yang disediakan Allah. Di dalam Kristuslah, kita memperoleh kasih karunia dan belas kasihan Allah yang berlimpah.

Sebagai orang-orang yang sudah mengalami syalom dari Allah, kita pun rindu menyatakan syalom itu kepada orang-orang sekitar kita, baik lewat tutur kata, perilaku hidup, cara berpikir dan cara menyelesaikan masalah dan konflik.

Syalom dari Allah juga bisa dinyatakan lewat pekabaran Injil kepada orang-orang yang belum percaya. Syalom dari Allah juga bisa kita bawa dalam usaha kita membawa saudara/i kita yang sudah lama meninggalkan gereja Tuhan serta persekutuan dengan sesama saudara seiman.

Official website : Bethany International Church (BIC Korea)