Kejahatan dan Hukumannya

Bacaan hari ini: Keluaran 21:12-36
“Mata ganti mata, gigi ganti gigi, tangan ganti tangan, kaki ganti kaki.” (Keluaran 21:24)

 

Dalam bacaan Alkitab hari ini kita kembali melihat Tuhan memberikan aturan-aturan mengenai hubungan antara sesama manusia untuk dilakukan di tengah-tengah umat Israel. Jika kemarin aturan-aturan mengenai budak dan tuan orang Israel, hari ini aturan-aturan itu mengenai hukuman bagi orang Israel yang melakukan kejahatan tertentu. Bahkan, aturan-aturan yang kita baca meliputi kejahatan yang dilakukan oleh ternak dari orang Israel. Sebagai contoh keluaran 21:28-29: Apabila seekor lembu menanduk seorang laki-laki atau perempuan, sehingga mati, maka pastilah lembu itu dilempari mati dengan batu dan dagingnya tidak boleh dimakan, tetapi pemilik lembu itu bebas dari hukuman. Tetapi jika lembu itu sejak dahulu telah sering menanduk dan pemiliknya telah diperingatkan, tetapi tidak mau menjaganya, kemudian lembu itu menanduk mati seorang laki-laki atau perempuan, maka lembu itu harus dilempari mati dengan batu, tetapi pemiliknya pun harus dihukum mati.

Aturan-aturan ini kelihatan sangat keras dan kejam. Namun pada dasarnya, aturan-aturan ini untuk memberikan keadilan kepada orang-orang Israel. Seseorang yang melakukan kejahatan dan merugikan orang lain, akan menerima hukuman atas perbuatannya. Diharapkan melalui aturan-aturan ini, maka orang Israel bisa lebih menghargai kehidupan sesama manusia lainnya, dan tidak melakukan sebuah tindakan yang merugikan sesama mereka.

Namun, aturan-aturan ini disempurnakan Tuhan Yesus sewaktu Dia berkhotbah di bukit. Yesus mengajarkan sebuah cara yang lebih baik dalam menghargai kehidupan sesama manusia, yaitu dengan cara mengampuni. Matius 5:38-39: “Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu.” Di dalam pengampunan, orang yang dirugikan tidak membalas dendam. Inilah yang diteladankan oleh Yesus di atas kayu salib.

Tahu Diri di Hadapan Tuhan

Bacaan hari ini: Keluaran 20:18-26
“Mereka berkata kepada Musa: “Engkaulah berbicara dengan kami, maka kami akan mendengarkan; tetapi janganlah Allah berbicara dengan kami, nanti kami mati.” (Keluaran 20:19)

 

Orang yang tahu diri adalah orang yang mengerti keadaan dirinya. Orang yang tahu diri akan berusaha berperilaku sesuai dengan kondisi dan lingkungan yang ada di sekitarnya, sehingga orang tersebut tidak mendapat masalah, tetapi justru mendapatkan manfaat dengan perilakunya yang tahu diri tersebut. Dalam bacaan Alkitab hari ini kita melihat orang-orang Yahudi dengan bijaksana sekali mengenali siapa diri mereka, dan siapa Tuhan, yang akhirnya membuat hidup mereka tidak mengalami kematian.

Dalam hal apakah orang-orang Israel tahu diri? Dalam perikop sebelumnya kita telah melihat bahwa Allah menampakkan diri kepada Musa dan menitipkan perintah-perintah untuk didengar dan dilakukan oleh orang-orang Israel. Dan dari perikop yang kita baca hari ini, pada waktu perintah-perintah itu diinformasikan kepada orang Israel, seluruh bangsa itu menyaksikan guruh mengguntur, kilat sabung-menyabung, sangkakala berbunyi dan gunung berasap. Pada waktu semua itu terjadi, seluruh orang Israel ketakutan. Mereka kuatir Tuhan akan menampakan diri di tengah-tengah mereka, karena itulah dikatakan bangsa itu menjadi takut dan gemetar dan mereka berdiri jauh-jauh. Mereka sadar diri mereka adalah orang-orang yang berdosa, yang pasti akan mati jika berhadapan dengan Tuhan secara langsung. Lalu katanya kepada Musa, “Engkaulah berbicara dengan kami, maka kami akan mendengarkan; tetapi janganlah Allah berbicara dengan kami, nanti kami mati.” Dari sini kita melihat sebuah sikap yang sangat baik dari bangsa Israel. Mereka tahu bahwa Tuhan adalah kudus, mereka adalah orang berdosa yang akhirnya mereka meminta Allah untuk berbicara kepada mereka melalui Musa.

Dari sini kita mempelajari dua hal.

Pertama, Tuhan menghargai sikap orang-orang yang “tahu diri” dihadapan-Nya.

Kedua, sikap “tahu diri” saja tidak cukup, orang-orang percaya harus mau untuk taat dan melakukan perintah-perintah-Nya.

Marilah kita mengevaluasi diri. Apakah kita masih mempunyai sikap tahu diri di hadapan Tuhan?

Jangan Mengingini Milik Sesamamu

Bacaan hari ini: Keluaran 20:17
“Jangan mengingini rumah sesamamu; jangan mengingini istrinya atau hambanya laki-laki …” (Keluaran 20:17)

 

“Jangan mengingini rumah sesamamu; jangan mengingini istrinya atau hambanya laki-laki, atau hambanya perempuan, atau lembunya atau keledainya, atau apa pun yang dipunyai sesamamu” (Keluaran 20:17). Perintah Tuhan yang ke-10 dari kesepuluh perintah Allah ini mengajarkan kepada umat Tuhan untuk tidak iri hati dengan kepunyaan orang lain.
Mengingini milik sesama merupakan hasrat yang muncul dari dalam hati karena merasa bahwa apa yang orang lain miliki lebih baik daripada yang kita punya. Mengapa di hadapan Tuhan, mengingini milik orang lain adalah dosa?

Ada dua alasannya.

Yang pertama, karena kita tidak merasa cukup dengan yang kita punya.

Orang yang selalu membandingkan apa yang ia miliki dengan kepunyaan orang lain, tidak akan pernah merasa puas. Dia selalu akan menemukan hal-hal yang ia belum miliki. Bagi Tuhan, keserakahan dan selalu merasa tidak puas adalah dosa.

Alasan yang kedua mengapa mengingini milik orang lain adalah dosa di mata Tuhan adalah bahwa orang yang demikian, tidak bersyukur dengan berkat spesial Tuhan yang diberikan kepada tiap-tiap orang.

1 Tesalonika 5:18 menyatakan kepada kita untuk, “Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kritus Yesus bagi kamu.” Hanya orang yang merasa cukup dengan yang ia miliki, dapat mensyukuri apa yang ia punya. Ia tidak mengeluh atau bersungut-sungut, tetapi memuji Allah untuk setiap berkat-Nya. Hati yang dipenuhi ucapan syukur berkenan di mata Tuhan.

Dalam hidup, kita tentu memiliki kenalan atau kerabat yang jauh lebih berhasil atau sukses daripada kita. Gaya hidup mewah dan semangat hedonisme juga kita temui dalam keseharian kita. Mungkin hal ini memicu kita untuk tidak lagi merasa cukup dengan apa yang kita miliki, melainkan bersungut-sungut dengan keadaan kita.

Mungkin kita mulai memiliki hasrat untuk mengingini apa yang orang lain miliki. Marilah kita menguji diri, bagaimana kita memandang harta orang lain.

Kiranya Tuhan menolong kita untuk selalu bersyukur atas semua yang kita miliki.

Jangan Mencuri

Bacaan hari ini: Keluaran 20:15
Jangan mencuri.” (Keluaran 20:15)

 

Ketika keluar dari tanah Mesir, paradigma umat Israel masih terpe-ngaruh oleh ajaran-ajaran Mesir. Karenanya, Allah memberikan ketetapan-Nya melalui nabi-Nya, Musa. Umat Israel membutuhkan aturan-aturan untuk menjaga hidup mereka dalam kekudusan. Dalam perenungan kita hari ini, kita akan membahas satu perintah, perintah ke-8 dalam kesepuluh hukum Tuhan. Untuk menjaga interaksi sosial antar sesama umat-Nya, Tuhan memberikan perintah, “jangan mencuri.” Perintah ini kembali diulang dalam Ulangan 5:19. Di konteks kitab Ulangan, perintah ini ditujukan bagi orang-orang Israel yang lahir selama perjalanan di padang gurun ketika menuju ke Tanah Perjanjian. Hukum ini termasuk hukum moral yang bahkan sampai saat ini masih berlaku.

Ketika seseorang mencuri milik orang lain, berarti kasihnya bagi orang lain memudar dan digantikan dengan egoisme diri sendiri. Seseorang yang memiliki pengenalan akan Tuhan yang benar, ia tidak akan mencuri. Mengapa? Karena ia sadar bahwa Tuhan mahatahu dan bahwa Tuhan memperhatikan setiap hal yang dilakukan oleh manusia. Di sisi lain, ketika seseorang takut akan Tuhan, ia akan berusaha senantiasa hidup berkenan di mata Tuhan.

Sebagai orang percaya, kita pun harus menjaga kekudusan dengan melakukan perintah Tuhan ini. Mungkin kita tidak secara terang-terangan mengambil properti milik orang lain. Kita sadar bahwa mencuri secara aktif adalah dosa di hadapan Allah. Namun mungkin kita terjerumus dalam pencurian-pencurian non-materiil.

Banyak orang Kristen kurang waspada dan seringkali terjerumus dalam hal-hal seperti ini. Mari kita menjaga kekudusan kita dengan cara tidak mencuri bahkan ketika ada kesempatan di hadapan kita.

Dari Mata Turun ke Hati

Bacaan hari ini: Keluaran 20:14
“Jangan Berzinah.” (Keluaran 20:14)

 

Perintah keenam dari 10 perintah Allah adalah “jangan berzinah.”

Perzinahan adalah dosa yang merajalela dalam kehidupan manusia, karena itu Allah memanggil umat-Nya hidup dalam kekudusan dan menjauhi dosa perzinahan.

Dalam Perjanjian Baru, dalam 1 Korintus 6:10-11, Paulus bahkan menegaskan bahwa perzinahan adalah dosa yang serius di hadapan Allah dan para pezinah dikatakan di sana tidak mendapat bagian dalam Kerajaan Allah. Akan tetapi perzinahan bukan hanya berbicara mengenai melakukan dosa amoral seksual dengan orang lain di luar pernikahan semata. Lebih dari itu, Yesus berkata bahwa setiap orang yang “… memandang seorang wanita dengan nafsu berahi, orang itu sudah berzinah dengan wanita itu di dalam hatinya” (Matius 5:28–BIS). Di dalam pengertian ini, dosa perzinahan dapat dimulai dengan apa yang kita lihat melalui mata kita. Oleh karena itu, Stephen Arterburn mengatakan bahwa untuk menang dari pencobaan seksual dan perzinahan, seseorang harus memiliki komitmen untuk menjaga matanya.

Menjaga mata berarti berani menjaga tontonan TV yang kita lihat, situs-situs internet yang kita akses, dan juga berani memalingkan mata kita dari orang-orang yang memikat hati di tempat kerja maupun di pusat perbelanjaan.

Mintalah kepada Tuhan untuk menguduskan mata kita. Mohon tuntunan-Nya agar kita memiliki komitmen kudus untuk menjaga mata kita dari segala kejahatan.

Tuhan, Jaga Mulutku

Bacaan hari ini: Keluaran 20:13
“Jangan Membunuh.” (Keluaran 20:13)

 

“Jangan membunuh” adalah perintah Allah yang kita renungkan hari ini. Pembunuhan erat kaitannya dengan perbuatan menumpahkan darah atau menghilangkan nyawa seseorang. Pengertian ini adalah pengertian yang umum dan dipahami juga oleh orang Israel, para ahli Taurat maupun orang Farisi ketika membaca perintah ini. Namun Yesus memberikan pengertian yang jauh lebih luas mengenai perintah ini.

Bagi Yesus, membunuh bukan hanya suatu tindakan menghilangkan nyawa, lebih dari itu pembunuhan juga meliputi ucapan, pikiran dan amarah kita kepada orang lain. Yesus berkata: “Setiap orang yang marah pada saudaranya harus dihukum” (Mat. 5:22a), “siapa yang memaki sesamanya dengan kasar juga akan dihukum dengan berat” (Mat. 5:22b). Mengapa demikian? Karena caci maki dan ejekan kasar kepada orang lain timbul dari amarah yang tidak berkenan di hadapan Allah. Ketika marah dan memaki orang lain, kita sedang menutup pintu hati kita sehingga kita tidak dapat mengasihinya. Kita membenci mereka dan membunuh mereka di dalam hati. Yohanes berkata: “Setiap orang yang membenci saudaranya adalah seorang pembunuh manusia” (1Yoh. 3:15a). Oleh karena itu, kita haruslah berhati-hati dengan perkataan dan amarah kepada orang lain, karena keduanya merupakan dosa yang serius di hadapan Allah.

Tindakan pembunuhan jelas merupakan dosa di hadapan Tuhan; akan tetapi kemarahan dan caci maki biasanya dianggap sebagai dosa yang lebih bisa dimaklumi atau diterima. Melalui perenungan hari ini, Tuhan Yesus ingin memberikan penjelasan bagaimana Allah memandang dosa pembunuhan sama seriusnya dengan dosa amarah dan caci maki.

Marilah kita mawas diri, menjaga tutur kata dan emosi kita. Sebelum kita marah, kita harus berpikir dengan baik dan berdoa agar perkataan yang keluar dari mulut kita tidak keluar dengan sia-sia dan menorehkan luka yang tidak terobati di hati orang lain.

Mari kita memohon hikmat dari Allah agar dengan pertolongan-Nya kita dapat menjaga perkataan sehingga dapat membangun orang lain dan memuliakan nama-Nya.

Berkat Bagi Anak Berbakti

Bacaan hari ini: Keluaran 20:12
“Hormatilah ayahmu dan ibumu , supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu.” (Keluaran 20:12)

 

Tidak ada orang tua yang sempurna. Di tengah dunia yang jatuh dalam dosa, ada kalanya orang tua bisa menyakiti anak-anaknya. Pukulan yang keras, perkataan yang kasar, dan pengabaian yang dilakukan, kadangkala menyisakan luka yang menggores hati dan tidak terobati. Luka itu sering dibiarkan seiring dengan bertumbuh dewasanya seseorang. Luka itu menganga di sana dan ketika kita sukses dan tidak membutuhkan orang tua, kita menjadi sukar untuk menghormati, peduli dan mengasihi mereka, karena luka itu masih ada di sana.

Sikap tidak hormat kepada orang tua sebenarnya menahan berkat Tuhan bagi hidup kita. Tuhan memerintahkan kita, “Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu” (Kel. 20:12). Umat-Nya dipanggil untuk menaruh hormat pada ayah dan ibu mereka, sehingga berkat Tuhan tercurah bagi mereka. Umur panjang dan tanah adalah berkat yang paling utama bagi umat Israel pada waktu itu. Bagi kita saat ini, berkat Tuhan bisa jadi kekayaan, kelancaran dalam pekerjaan, sukacita hidup, damai sejahtera, kesehatan yang prima, dll. Dan berkat itu tidak bisa mengalir dengan deras dalam hidup kita ketika kita belum bisa menghormati orang tua kita.

Apabila pada hari ini kita seringkali merasa tidak diberkati oleh Tuhan, pertanyaan pertama yang perlu kita tanyakan kepada diri kita adalah, “Apakah aku menghormati orang tuaku?” Mereka tidak sempurna sama seperti kita, tetapi sama seperti kita, yang rindu diampuni dan dikasihi, mereka pun demikian.

Mari kita melepaskan pengampunan atas kesalahan-kesalahan yang mereka perbuat dan belajar untuk mengasihi menghormati mereka. Sebelum Tuhan memanggil mereka, kita masih punya waktu merubah air mata penyesalan di rumah duka menjadi air mata bahagia di mata orang tua kita melalui anugerah yang kita berikan dan cinta kasih kita kepada mereka.

Biar kasih Allah dan berkat-Nya tercurah melalui hidupmu dan keluargamu. Tutup renungan hari ini, berdoalah dan kasihilah orang tuamu.

Official website : Bethany International Church (BIC Korea)