Mengulangi Kesalahan yang Sama

Bacaan hari ini: Keluaran 10:21-29
“Firman-Mu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.” (Mazmur 119:105)

 

Musibah demi musibah telah dialami Firaun dan bangsanya, namun Firaun tidak segera sadar dan berpaling kepada penderitaan bangsanya. Bagian ini adalah suatu bagian yang gelap dalam sejarah Mesir. Mesir mengalami kegelapan selama tiga hari (ay. 22), tidak ada seorangpun dapat melihat sesamanya, bangun dari tempatnya dan melakukan aktivitas seperti biasanya. Kegelapan itu lebih hitam daripada kegelapan tengah malam, tidak dapat ditembus oleh apapun.

Mesir percaya bahwa dewa matahari membawa berkat bagi mereka; ketika tidak ada matahari maka mereka merasa bahwa dewa tidak berpihak pada mereka dan mereka sangat kacau. Di sisi lain, Israel yang mendiami tanah Gosyen tidak mengalami kegelapan sedikit pun melainkan terang. Bangsa Israel tetap dapat menjalankan pekerjaannya seperti biasa.

Dengan membiarkan hati tetap keras bukan menunjukkan kehebatan kita, tetapi itu hanya akan membawa kerugian kepada diri kita sendiri. Hal inilah yang menimpa Firaun; Firaun terus menolak dan melawan kebaikan Allah. Oleh karena itu, keputusan Tuhan tetaplah sama, yakni membiarkan tulah-tulah itu bekerja atas Mesir. Firaun tetap tidak mau tunduk dan mengakui kedaulatan TUHAN. Ia telah diperingatkan Musa berkali-kali, bahkan tulah demi tulah telah berbicara menjelaskan kekuasaan Allah yang tak dapat dilawan, namun keputusan Firaun tetap sama, yakni ia tetap tidak membiarkan bangsa Israel pergi dari Mesir dengan seluruh keluarga dan ternak-ternak mereka, bahkan Ia pun melontarkan kata-kata yang keras terhadap Musa (ay. 28-29). Kesalahan terbesar Firaun adalah, ia terus-menerus mengabaikan peringatan-peringatan, mencemooh Firman

Allah, tegar-tengkuk melawan Allah. Firaun lupa akan pengalaman sebelumnya dan terus mengulangi kesalahan yang sama. Satu pepatah mengatakan, “keledai tidak jatuh di lubang yang sama.” Janganlah kita meniru sikap dan perilaku Firaun dalam hubungan kita dengan Tuhan.

Keras Hati

Bacaan hari ini: Keluaran 10:1-20
“Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu seperti dalam kegeraman.” (Ibrani 3:15)

 

Sejauh ini Firaun dan para pegawainya masih mengeraskan hatinya. Namun, ketika mereka melihat tangan Allah yang Mahakuasa menyertai Musa dan Harun, maka mereka pun merasa tertekan dan takut melihat tulah yang akan didatangkan kembali atas Mesir (ay. 7). Para pegawai Firaun mengusulkan kepada Firaun supaya ia mengijinkan Israel pergi beribadah kepada Allah mereka. Meskipun masih mengeraskan hati terhadap bangsa ini, Firaun sedikit mempertimbangkan kembali nasihat para pegawainya.

Firaun memutuskan untuk memanggil kembali Musa dan Harun. Musa meminta agar seluruh bangsa itu, mencakup semua orang yang tua dan muda, baik laki-laki, perempuan, maupun anak-anak dapat pergi beribadah kepada Allah (ay. 9). Sekali lagi, Firaun mengeraskan hatinya dan menolak permintaan Musa itu, Firaun hanya mengijinkan semua laki-laki Israel pergi beribadah kepada Allah, tanpa perempuan maupun anak-anak. Budaya Mesir pada saat itu memandang bahwa perempuan adalah hamba suami, sehingga perempuan harus tinggal di rumah dan melayani suami.

Atas keputusan yang dibuat oleh Firaun itu, maka Allah mendatangkan tulah belalang atas Mesir (ay. 12-14). Belalang menutupi seluruh permukaan bumi, sehingga negeri itu mengalami kegelapan dan belalang itu pun memakan habis segala tumbuh-tumbuhan di Mesir (ay. 15). Firaun kembali tidak berdaya melihat kekuasaan Tuhan yang besar. Ia menyadari bahwa Allah bangsa Israel adalah Allah yang berkuasa atas seluruh alam semesta. Firaun berbalik hatinya dan ia memohon agar Musa mendoakan Firaun kepada Allah, supaya kesalahan dan dosanya diampuni (ay. 17). Maka Tuhan pun menyingkirkan belalang dari seluruh Mesir (ay. 19).

Melalui bagian ini, kita diingatkan bahwa adalah hal yang mengerikan ketika kita jatuh ke dalam tangan Allah yang berdaulat dan berkuasa. Janganlah kita mencoba-coba untuk mempermainkan Tuhan, Allah kita. Sebaliknya, marilah kita belajar merendahkan diri di hadapan Allah.

Jangan Tunggu Krisis

Bacaan hari ini: Keluaran 9:13-35
“Tetapi ketika Firaun melihat, bahwa hujan, hujan es dan guruh telah berhenti, maka teruslah ia berbuat dosa; ia tetap berkeras hati, baik ia maupun para pegawainya.” (Keluaran 9:34)

 

Dalam dunia ini ada orang-orang yang ketika hidupnya baik-baik saja, mereka merasa diri mereka mampu dan bisa menjalaninya dengan kekuatan mereka sendiri. Namun ketika hidup mereka sedang berada dalam krisis, barulah mereka menyadari akan kelemahan mereka. Di saat itulah orang-orang yang ada dalam krisis berharap dan mencari pertolongan dari pihak lain. Hal itu juga yang terjadi pada diri Firaun.

Setelah enam tulah berlalu tanpa membuat perubahan dalam diri Firaun, Tuhan menurunkan tulah yang lebih serius. Tuhan memperingatkan Firaun dan orang-orang Mesir bahwa Ia akan menurunkan hujan es yang sangat dahsyat. Setiap orang dan hewan yang tidak berlindung di tempat yang aman akan ditimpa hujan es itu sampai mati.
Keesokan harinya terjadilah sesuai dengan firman Tuhan. Turunlah hujan es yang sangat dahsyat di Mesir. Orang-orang yang mengabaikan peringatan Tuhan dan tidak berlindung, mati ditimpa oleh hujan es tersebut. Hujan es itu membinasakan segala sesuatu yang ada di padang: manusia, hewan dan tumbuhan. Begitu dahsyatnya hujan es itu sehingga kemudian Firaun memanggil Musa dan Harun untuk mengakui kesalahannya dan memohon agar hujan es itu dihentikan. Di saat krisis terjadi, barulah Firaun menyadari kelemahannya dan meminta pertolongan. Musa menghentikan hujan es tersebut. Namun ketika hujan es itu berhenti, Firaun kembali mengingkari perkataannya. Setelah keadaan kembali normal, ia justru kembali berbuat dosa lagi.
Sadar atau tidak sadar, kadang sikap kita juga seperti itu. Ketika ada krisis, teror bom, kerusuhan, permasalahan yang berat, baru kita sungguh-sungguh berdoa, meminta ampun atas dosa-dosa kita dan mencari Tuhan. Namun ketika keadaan sudah kembali tenang dan aman, terkadang kita lupa untuk bersyukur dan mendekatkan diri pada Tuhan. Janganlah kita menjadi seperti Firaun. Jangan melupakan Tuhan ketika hidup kita baik-baik saja. Jangan tunggu krisis terjadi dalam hidup kita baru kita ingat pada Tuhan.

Serahkan pada Ahlinya

Bacaan hari ini: Keluaran 9:8-12
“Sehingga ahli-ahli itu tidak dapat tetap berdiri di depan Musa, karena barah-barah itu; sebab ahli-ahli itu pun juga kena barah sama seperti semua orang Mesir.” (Keluaran 9:11)

 

Dalam dunia ini, orang-orang cenderung mempercayakan sesuatu kepada orang yang ahli. Misalnya ketika sakit, orang akan mencari seorang dokter yang ahli yang dipercaya dapat mengobati sakitnya; ketika mencari guru les, orang akan mencari seseorang yang memang pintar, ahli di bidangnya untuk mengajar, dsb. Karena itulah muncul slogan, “serahkan pada ahlinya.” Orang akan lebih tenang ketika mempercayakan suatu hal kepada orang yang memang ahli dalam hal tersebut.

Dalam kerajaannya, Firaun juga memiliki orang-orang ahli. Orang-orang ahli yang dimaksud di sini adalah orang-orang yang bisa dikatakan sebagai penasihat spiritual Firaun. Mereka adalah orang-orang pintar, orang-orang berilmu. Mereka bertugas dalam memimpin ritual-ritual penyembahan dan ahli dalam melakukan sihir. Orang-orang inilah yang dipanggil oleh Firaun untuk menghadapi Musa dan Harun, ketika mereka datang kepada Firaun. Ahli-ahli sihir tersebut dianggap bisa menandingi mujizat-mujizat yang dilakukan oleh Allah melalui Musa dan Harun. Namun tentu saja mujizat yang dilakukan oleh ahli-ahli sihir tersebut adalah mujizat palsu yang tidak bisa menandingi kekuatan Tuhan. Dan hal itu sekali lagi nampak di tulah yang keenam ini.

Tuhan menyuruh Musa dan Harun untuk mengambil jelaga dapur dan menghamburkannya di hadapan Firaun. Ketika Musa melakukan perintah Tuhan tersebut, seketika timbullah barah pada manusia dan binatang. Ahli-ahli sihir Firaun pun tidak kuasa untuk melawan tulah keenam tersebut. Mereka tersungkur di hadapan Musa karena barah itu menimpa mereka. Sihir mereka tidak sanggup melawan kuasa Tuhan.

Dunia ini mengajarkan kita untuk mempercayakan diri kepada orang-orang yang ahli, orang-orang yang dirasa sanggup untuk diandalkan. Namun sesungguhnya tidak ada satu orang pun di dunia ini yang sanggup untuk diandalkan, selain dari Tuhan. Karena itu, jangan sampai kita salah mempercayakan hidup kita. Serahkan hidupmu pada ahlinya, Tuhan yang berkuasa atas dunia ini.

Kuasa Tuhan Atas Mesir

Bacaan hari ini: Keluaran 8:20-32
“Tetapi pada hari itu Aku akan mengecualikan tanah Gosyen, di mana umat-Ku tinggal, … supaya engkau mengetahui, bahwa Aku, TUHAN, ada di negeri ini.” (Keluaran 8:22)

 

Apa yang membedakan antara Israel, sebagai umat TUHAN, dengan Mesir, yang bukan termasuk umat TUHAN? Perbedaannya jelas. Israel merupakan umat TUHAN, akan selalu dijaga, dilindungi serta dipelihara oleh TUHAN. Hal ini nampak di dalam perkataan TUHAN kepada Musa, “Tapi pada hari itu Aku akan mengecualikan tanah Gosyen, di mana umat-Ku tinggal, sehingga di sana tidak ada terdapat pikat, supaya engkau mengetahui, bahwa Aku, TUHAN, ada di negeri ini” (bnd. Keluaran 8:22).

Bangsa Israel tinggal sebagai budak di Mesir selama 430 tahun. Sejak kematian Yusuf, bangsa Israel yang diam di Mesir, dijadikan sebagai budak dan ditindas oleh Mesir (bnd. Keluaran 5: 1-24). Meski mereka ada di dalam perbudakan bangsa Mesir, TUHAN tetaplah memelihara, melindungi dan menjaga kehidupan bangsa Israel. Mengapa TUHAN berbuat demikian? Karena Israel adalah umat-Nya. Itu sebabnya pada waktu Mesir dihukum dengan tulah lalat pikat,—akibat kekerasan hati Firaun, raja Mesir,—tanah Gosyen yang didiami oleh bangsa Israel, luput dari penghukuman TUHAN. Pertanyaannya, apakah tujuan TUHAN melakukan hal demikian? Supaya bangsa Mesir mengetahui bahwa TUHAN itu adalah TUHAN yang benar; TUHAN tidak sama dengan dewa-dewa yang mereka sembah di Mesir. TUHAN itu adalah Tuan atas segala ciptaan; TUHAN itu adalah TUHAN yang disembah oleh bangsa Israel. TUHAN menunjukkan segala kuasa dan mujizat melalui Musa dan Harun agar bangsa Mesir tahu bahwa di Mesir pun, TUHAN hadir dan berkuasa.

Belajar dari kisah ini, kita harus bersyukur sebagai umat-Nya. Sama seperti bangsa Israel di Mesir mengalami pertolongan dan perlindungan TUHAN, demikian juga kita orang Kristen masa kini. Kita ini umat-Nya, karena kita telah ditebus Kristus dan belenggu dosa telah dipatahkan melalui kematian-Nya. Kita sebagai umat-Nya selalu dijaga dan dipelihara oleh-Nya. Meski kita mengalami berbagai hal yang sulit dan penuh dengan pergumulan, namun pertolongan serta perlindungan-Nya sungguh nyata di dalam hidup kita.

Kuasa Tuhan Atas Mesir (1)

Bacaan hari ini: Keluaran 8:1-15
“Dan TUHAN melakukan seperti yang dikatakan Musa, sehingga katak-katak itu mati lenyap dari rumah, dari halaman dan dari ladang.” (Keluaran 8:13)

 

Apakah yang akan dilakukan TUHAN apabila suatu bangsa tidak melakukan seperti yang dikehendaki-Nya? TUHAN pasti menghukum bangsa itu. Inilah gambaran yang dapat kita baca melalui Keluaran 8:1-15.

TUHAN menghendaki agar umat-Nya, Israel, pergi beribadah kepada-Nya. Oleh karena itu, TUHAN memerintahkan Musa untuk menghadap Firaun dan menyampaikan maksud-Nya agar membebaskan bangsa Israel pergi beribadah kepada-Nya. Namun ternyata, apa yang dikatakan Musa, tidak diindahkan oleh Firaun. Itu sebabnya, TUHAN mendatangkan tulah katak kepada bangsa Mesir sebagai suatu penghukuman. Katak-katak yang ada di sungai Nil naik ke darat dan memenuhi rumah seluruh orang-orang Mesir, termasuk seluruh rumah seluruh pegawai-pegawai Firaun. Penghukuman dari TUHAN ini bertujuan agar Firaun tahu bahwa YHWH adalah TUHAN yang menguasai alam semesta; YHWH adalah TUHAN yang mengatur alam semesta dan seisinya; YHWH adalah TUHAN atas seluruh ciptaan yang ada di Mesir dan seluruh muka bumi; YHWH adalah TUHAN atas segala yang hidup, Ia mampu memerintah dan menggerakkan seluruh makhluk hidup.

Firaun memanggil para ahli (sihir) bangsa Mesir, untuk melawan Musa dan Harun dengan sihirnya. Namun bukannya mengusir katak-katak yang telah menyelimuti Mesir, justru membuat katak-katak itu semakin banyak memenuhi Mesir. Ketidaksanggupan mereka membuat Firaun kuatir. Oleh karena itu, Firaun menetapkan satu syarat kepada Musa dan Harun, “Jika katak-katak ini dijauhkan dari Mesir, maka Firaun akan membebaskan bangsa Israel untuk beribadah dan mempersembahkan korban kepada TUHAN.” Kemudian melalui doa Musa dan Harun, apa yang dikehendaki Firaun itu terjadi. Katak-katak itu dijauhkan dari Mesir.

Kita belajar satu prinsip, bangsa yang tidak menaati TUHAN akan mengalami penghukuman TUHAN. Sebaliknya, jika bangsa itu menaati TUHAN, maka Dia akan menjauhkan bangsa itu dari penghukuman.

Allah Berkuasa Atas Segalanya

Bacaan hari ini: Keluaran 7:14-25
“Demikianlah genap tujuh hari berlalu setelah TUHAN menulahi sungai Nil.” (Keluaran 7:25)

 

Manusia seringkali begitu terbatas. Manusia hanya bisa melihat apa yang ditangkap oleh pancaindra. Apa yang terlihat oleh mata, itulah yang kita tangkap. Seringkali kesimpulan kita berasal dari apa yang kita lihat. Kesimpulan akhirnya menjadi keyakinan. Kesimpulan itu bisa jadi salah, sehingga keyakinan pun menjadi salah.

Bangsa Mesir melihat bahwa sungai Nil adalah salah satu alam yang luar biasa di Mesir. Mereka mempercayai bahwa ada allah menguasai sungai Nil. Mereka menyebutnya Hapi, dewa sungai Nil. Bangsa Mesir menyimpulkan air adalah perwujudan atau jelmaan Hapi, dewa sungai Nil, yang memberikan hidup bagi mereka. Tulah pertama adalah air menjadi darah. Allah bukan hanya merubah warna sungai Nil menjadi merah, tetapi air dari sungai Nil ini secara naturnya berubah menjadi darah. Hapi, yang tadinya diyakini memberikan air sebagai sumber hidup bagi bangsa Mesir, berubah menjadi darah. Air dari sungai Nil tidak dapat diminum selama 7 hari, bahkan semua ikan yang tadinya hidup di sungai Nil, menjadi mati. Hapi tidak berkuasa melawan Allah yang berkuasa atas segalanya. Karena Hapi hanyalah dewa ciptaan pikiran bangsa Mesir, bukan allah yang sesungguhnya. Sedangkan TUHAN, Allah orang Ibrani, adalah Allah yang hidup dan Allah yang sesungguhnya.

Dalam kehidupan kita, ada banyak gejolak terjadi, banyak kejadian dan bencana tiba-tiba terjadi. Di balik segala yang jahat, kita meyakini bahwa Setan turut bekerja. Baru saja muncul para pemimpin bangsa yang jujur dan benar di hadapan Tuhan, akan tetapi menghadapi begitu banyak pihak yang tidak menyukai keberadaannya. Pihak tersebut terus menentangnya dan ingin menggulingkannya.

Melalui bagian ini, kita meyakini bahwa Allah tetap berdaulat dan memegang kendali. Tidak ada sesuatu apapun yang terjadi di luar kendali-Nya. Di balik yang kita bisa lihat, sesungguhnya Allah sedang berkarya dan menyatakan kuasa-Nya melalui hal yang tidak dapat kita selami dan tidak dapat kita duga. Karena itu, hanya Dialah Tuhan yang patut kita andalkan.

Official website : Bethany International Church (BIC Korea)