Kuduskanlah Hari Sabat

Bacaan hari ini: Keluaran 31:12-18
“Katakanlah kepada orang-orang Israel: Akan tetapi hari-hari Sabat-Ku harus kamu pelihara, sebab itulah peringatan antara Aku dan kamu, turun-temurun, sehingga kamu mengetahui, bahwa Akulah TUHAN, yang menguduskan kamu.” (Keluaran 31:13)

 

Dalam Kitab Keluaran 31:12-17, Allah menyampaikan firman-Nya pada Musa, supaya hari ketujuh ditetapkan sebagai hari perhentian penuh (Sabat), hari untuk kita beristirahat atau berhenti bekerja. Alasannya, bangsa Israel harus mengikuti apa yang telah dilakukan oleh Allah, yaitu menciptakan langit dan bumi selama enam hari, lalu berhenti dari semua pekerjaan pada hari yang ketujuh (ay. 16-17). Melalui bagian ini kita akan belajar pentingnya kita menguduskan Hari Sabat.

Pertama, Hari Sabat adalah peringatan antara Allah dan umat-Nya.

Dalam ayat 13 dikatakan bahwa Hari Sabat adalah sebagai “Peringatan antara Allah dan umat-Nya sampai turun-temurun.” Artinya adalah bahwa Allah sendiri yang memberikan banyak kebaikan, pemulihan dan mukjizat bagi umat Israel. Semua itu dilakukan oleh Allah sebagai bukti cinta kasih Allah kepada umat-Nya. Oleh sebab itu, Allah kembali mengingatkan mereka bahwa semua yang terjadi dalam kehidupan mereka semata-mata hanya karena kebaikan Tuhan. Sebab itu, umat Israel bersama dengan keturunannya harus datang beribadah kepada Tuhan dan tetap memelihara relasi mereka dengan Tuhan (ay. 14,16). Oleh sebab itu, ketika kita bertemu dengan hari Sabat, kita datang dengan sungguh-sungguh, dan memeliharanya dalam hidup kita.

Kedua, Hari Sabat adalah hari yang kudus bagi Tuhan (ay. 15).

Allah berfirman kepada bangsa Israel melalui Musa, untuk “Menguduskan hari Sabat.” Karena hari Sabat adalah hari yang kudus bagi Tuhan, artinya adalah: hari itu adalah hari yang suci, harus dipersembahkan, dikuduskan dan dikhususkan untuk Tuhan, dimana setiap umat harus datang kepada Tuhan untuk berbakti dan beribadah serta menyembah Tuhan dengan sungguh-sungguh.

Tuhan telah menyediakan waktu selama enam hari bagi umat-Nya untuk bekerja dan pada hari yang ketujuh adalah hari perhentian dari semua pekerjaan sehari-hari yang telah dilakukan.

Oleh sebab itu, ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat yang diberikan Tuhan bagi kita dan peliharalah serta muliakan Tuhan selamanya.

Karunia: dari Tuhan untuk Tuhan

Bacaan hari ini: Keluaran 31:1-11
“Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: Lihat, telah Kutunjuk Bezaleel bin Uri bin Hur, dari suku Yehuda, dan telah Kupenuhi dia dengan Roh Allah, dengan keahlian dan pengertian dan pengetahuan, dalam segala macam pekerjaan.” (Keluaran 31:1-3)

 

Kepemimpinan Musa dan Harun atas bangsa Israel tidaklah perlu diragukan lagi, tetapi kita tahu bahwa mereka dapat memimpin bangsa Israel, karena Tuhan semata. Musa sendiri bukan seorang pemimpin dari lahir. Dan, kita melihat bahwa tidak berarti orang lain tidak bisa apa-apa dan tidak memiliki apa-apa. Dalam Kel. 18, kita juga telah melihat bahwa Musa pun membutuhkan “Hakim-hakim” untuk membantu pekerjaannya. Dalam bagian ini juga memperlihatkan kepada kita bahwa Tuhan pun secara aktif memanggil orang lain, diberikan talenta khusus untuk pembangunan Kemah Suci.

Pekerjaan Kemah Suci bukan pekerjaan gampang yang memakan waktu singkat, apalagi bangsa Israel masih baru keluar dari perbudakan di Mesir, mereka disuruh untuk membangun Kemah Suci, ini tentu akan ada banyak kesulitan. Tuhan Tahu! Ini pekerjaan Tuhan, maka Tuhan pula yang menyediakan segala kebutuhan, termasuk orang dan bahan. Kita sebagai umat Tuhan tidak perlu kuatir, kita hanya perlu untuk mengikuti petunjuk kebenaran Tuhan. Hal ini juga berlaku untuk kita secara pribadi, apa yang menjadi rencana dan panggilan Tuhan untuk gereja dan diri kita pribadi. Seringkali kita menghitung biaya atau mengukur kemampuan. Tapi, apakah kita mencari tahu apa kehendak Tuhan untuk kita lakukan? Hal yang paling jelas ialah: kehendak Tuhan adalah Amanat Agung, bila kita sungguh rindu melakukannya, maka Tuhan akan memampukan kita, dan menyediakan apa yang kita perlukan. Sebagaimana perkataan Hudson Taylor bahwa, “Pekerjaan Allah dilakukan dengan cara Allah, maka tidak akan pernah kekurangan akan suplai dari Allah sendiri.”

Hal berikut yang dapat kita pelajari adalah, jangan berkata gereja atau pekerjaan Tuhan telah banyak orang melakukannya, dan kita hanya orang kecil dan tidak mampu. Lihatlah, setiap kita unik di mata Tuhan dan memiliki kemampuan serta panggilan khusus, tidak mungkin kita “menganggur”. Oleh sebab itu minta kepada Tuhan, buka mata hati Anda, temukan beban dan talenta Anda, lakukanlah dengan setia untuk kemuliaan-Nya.

Bau yang Kudus dari Tuhan

Bacaan hari ini: Keluaran 30:34-38
“Sebagian dari ukupan itu haruslah kaugiling sampai halus, dan sedikit dari padanya kauletakkanlah di hadapan tabut hukum di dalam Kemah Pertemuan, di mana Aku akan bertemu dengan engkau; haruslah itu maha kudus bagimu.” (Keluaran 30:36)

 

Tuhan Allah adalah Tuhan atas segala sesuatu, di mana kita manusia ciptaan dituntut menghampiri-Nya dalam kekudusan menyeluruh. Bagian-bagian sebelumnya mengajarkan kita tentang kekudusan dalam upacara ibadah, termasuk peralatan-peralatan yang dipakai. Bagian ini mengajarkan kita tentang ukupan yang hendak dibakar di atas mezbah. Ternyata bahan-bahan tersebut tidaklah sembarangan, semua itu adalah bahan-bahan pilihan yang terbaik, ada “getah damar, kulit lokan dan getah rasamala, wangi-wangian itu serta kemenyan yang tulen.”

Dari kata “tulen”, kita tahu bahwa bahan-bahan tersebut adalah pilihan yang terbaik, sebagaimana peralatan Kemah Suci dibuat dari bahan-bahan pilihan yang terbaik, demikian juga bahan-bahan ukupan ini. Dalam ayat 34 menyebutkan, masing-masing harus sama banyaknya, berarti tidak boleh dibuat dari bahan sembarangan dan ukuran yang sesuka “gue”, bahkan ayat 38 memberikan peringatan bagi yang melanggar kekudusan Tuhan. Mengikuti tuntutan Tuhan juga merupakan persembahan yang harum bagi Tuhan. Dalam kisah orang Majus yang datang mencari bayi Yesus, mereka membawa persembahan yang terbaik, selain emas yang merupakan logam yang paling mahal dan murni, juga kemenyan dan mur. Kemenyan adalah ukupan yang baunya wangi di hadapan Tuhan. Oleh sebab itu, hukum Tuhan secara prinsip masih tetap berlaku bagi kita sekarang, sekalipun kita ada di dunia PB dan diselamatkan oleh iman.

Kita tahu bahwa semua itu adalah simbol dari kekudusan yang Tuhan tuntut dari kita, dan secara manusia kita tidak mungkin menuaikannya dengan sempurna. Bersyukur kepada Tuhan Yesus, karya Salib-Nya telah menggenapi tuntutan Allah Bapa dengan sempurna, namun kita tetap bertanggungjawab atas kehidupan yang sempurna, sebagaimana rasul Paulus katakan, “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati” (Rom. 12:1 ITB).

Kekudusan Hidup (2)

Bacaan hari ini: Keluaran 30:22-33
“Kuduslah kamu, sebab Aku, TUHAN, Allahmu kudus.” (Imamat 19:2b)

 

Kehidupan bersama dengan Allah adalah sebuah kehidupan yang berdasarkan kepada kekudusan. Sejak zaman dulu, berulang kali, Allah telah menggemakan panggilan hidup kudus bagi umat-Nya. Allah telah memberikan peraturan demi peraturan untuk mengarahkan umat-Nya hidup dalam kekudusan.

Dalam kasus ini, Allah berfirman kepada Musa, supaya membuat suatu campuran rempah-rempah yang dicampur dengan cermat seperti buatan tukang campur rempah-rempah; itulah yang harus menjadi minyak urapan yang kudus (ay. 25). Campuran minyak urapan yang kudus ini dikhususkan untuk menguduskan Kemah Pertemuan, dan tabut hukum, meja dengan segala perkakasnya, kandil dengan segala perkakasnya, dan mezbah pembakaran ukupan; dan juga untuk mengurapi Harun dan anak-anaknya yang akan memegang jabatan imam (ay. 26-30). Minyak urapan kudus ini diperuntukkan untuk tujuan yang kudus untuk melayani TUHAN, sehingga orang awam tidak diperbolehkan memakai minyak urapan ini secara sembarangan. Jika ditemukan orang awam yang dengan sengaja menggunakan minyaknya, maka orang demikian haruslah dilenyapkan dari antara bangsanya (ay. 33). Bahkan para imam juga tidak diperbolehkan memakai minyak urapan ini untuk tujuan yang berbeda bagi umat Israel.

Dari Firman Tuhan hari ini, secara konsisten ketika Tuhan telah memberikan perintah dan peraturan kepada umat-Nya, maka Tuhan juga memberikan batasan-batasan yang jelas antara “yang kudus” dan “yang tidak kudus” supaya umat-Nya tidak melanggar. Apabila umat Allah sudah mengerti aturan yang jelas dari Allah dan tetap melanggar, maka akan ada sebuah konsekuensi bagi mereka yang melanggarnya.

Hari ini, kita memiliki Firman Tuhan sebagai pegangan kita untuk mengetahui dan membedakan mana “yang kudus” dan “yang tidak kudus” sesuai dengan kehendak Allah. Oleh sebab itu, bawalah diri kita masing-masing untuk hidup berpadanan dengan Firman Tuhan supaya kita boleh senantiasa memuliakan nama Allah.

Kekudusan Hidup (1)

Bacaan hari ini: Keluaran 30:17-21
“Sujudlah menyembah kepada TUHAN dengan berhiaskan kekudusan, gemetarlah di hadapan-Nya, hai segenap bumi!” (Mazmur 96:9)

 

Kekudusan merupakan salah satu sifat atau atribut Allah. Allah itu adalah Pribadi yang kudus, oleh karena itu Allah menginginkan agar umat-Nya pun dapat hidup dalam kekudusan. Itulah sebabnya, segala hukum dan ritual yang diperintahkan Allah dalam Perjanjian Lama, menyatakan kekudusan-Nya. Misalnya, mengenai ritual pembasuhan yang tercatat dalam bagian ini.

Tuhan berfirman kepada Musa agar membuat sebuah bejana pembasuhan. Bejana pembasuhan ini haruslah terbuat dari bejana tembaga yang besar, dan haruslah diletakkan di antara Kemah Pertemuan dan Mezbah. Bejana pembasuhan ini akan diisi dengan air, dan akan digunakan untuk membasuh tangan dan kaki para iman sebelum mereka melayani di Kemah Pertemuan.

Aturannya adalah, apabila mereka hendak datang ke mezbah itu untuk menyelenggarakan kebaktian dan untuk membakar korban api-apian bagi TUHAN, haruslah mereka membasuh tangan dan kaki mereka, supaya mereka jangan mati. Bejana pembasuhan ini memiliki pengertian rohani, yaitu untuk menyucikan dan menguduskan para imam, sehingga terjadi pendamaian sebelum melayani TUHAN yang Mahakudus di Kemah Pertemuan.

Hari ini, ritual pembasuhan tidak lagi terjadi ketika umat Tuhan masuk dan melayani di rumah Tuhan. Sebab Yesus Kristus, sang Anak Domba Allah telah menyucikan kita dari setiap dosa dan telah melayakkan kita untuk boleh menghadap hadirat Allah dengan kekudusan. Akhirnya, marilah kita sebagai anak-anak Allah hidup dalam kekudusan. Dengan demikian nama Allah dipermuliakan melalui kehidupan kita.

Uang Pendamaian

Bacaan hari ini: Keluaran 30:11-18
“Setiap orang yang akan termasuk orang-orang yang terdaftar itu, yang berumur dua puluh tahun ke atas, haruslah mempersembahkan persembahan khusus itu kepada Tuhan.” (Keluaran 30:14)

 

Sensus penduduk adalah hal wajar dilakukan oleh pemerintah untuk mengetahui jumlah dan data penduduk yang tinggal di satu daerah. Allah juga memerintahkan Musa untuk melakukan sensus kepada umat Israel. Bacaan hari ini mengatur mengenai persembahan yang harus diberikan olah umat Israel pada waktu sensus. Orang-orang yang sudah terdaftar dan berusia dua puluh tahun ke atas harus memberi persembahan khusus kepada Tuhan. Kewajiban ini berlaku untuk semua kalangan, baik orang miskin maupun orang kaya. Jumlah yang harus diberikan pun sama untuk setiap orangnya, yaitu setengah syikal.

Persembahan khusus merupakan uang pendamaian bagi nyawa umat Israel. Umat diharuskan memberi persembahan khusus itu karena mereka telah menerima keselamatan dari Tuhan atas nyawa mereka. Pemberian persembahan khusus ini mengajarkan umat bahwa hidup mereka bukan bergantung pada kekayaan, melainkan kepada Tuhan, Pemberi hidup. Tuhan telah membebaskan mereka dari perbudakan di Mesir, karena itu sudah selayaknyalah mereka memberikan persembahan khusus kepada Tuhan sebagai ungkapan syukur mereka kepada Tuhan. Kesetiaan umat memberikan persembahan khusus merupakan tanda bakti mereka kepada Tuhan. Persembahan khusus itu melambangkan bahwa umat adalah milik Tuhan, bukan milik Musa, bukan juga milik pemerintah.

Di dalam Kristus, kita telah ditebus dan harganya telah lunas dibayar oleh darah-Nya, sehingga kita menjadi anak Allah. Hidup kita sekarang adalah milik Tuhan. Oleh karena itu, kita harus mengucap syukur dengan cara mempersembahkan hidup sebagai persembahan yang hidup, yang kudus, dan yang berkenan kepada Allah. Persembahan yang kita berikan dalam ibadah kita adalah peringatan bahwa kita adalah milik Tuhan. Kita dipelihara oleh belas kasih Tuhan. Persembahan itu sesungguhnya berasal dari tangan Tuhan sendiri (1Taw. 29:14). Bila pemahaman itu sudah ada di dalam hati kita, maka mempersembahkan harta kita untuk Tuhan, bukanlah beban.

Hak Istimewa Orang Percaya

Bacaan hari ini: Keluaran 30:1-10
“Sekali setahun haruslah Harun mengadakan pendamaian di atas tanduk-tanduknya; dengan darah korban penghapus dosa pembawa pendamaian…” (Keluaran 30:10)

 

Bagian ini mengatur mengenai pembuatan mezbah pembakaran ukupan. Mezbah pembakaran ukupan berbeda dengan mezbah korban bakaran. Mezbah pembakaran ukupan khusus dipakai untuk membakar ukupan wangi-wangian dan tidak boleh dipakai untuk keperluan lain. Campuran dari persembahan ukupan itu juga ditetapkan oleh Tuhan.

Mezbah itu harus diletakkan di ruang kudus di depan tabir ruang maha kudus, tempat kehadiran Allah di tengah-tengah umat-Nya. Di atas mezbah itu, imam-imam harus mewakili umat Tuhan mempersembahkan ukupan pada pagi dan petang setiap harinya, sama seperti korban bakaran. Dalam Alkitab, persembahan ukupan melambangkan doa-doa umat Tuhan (Mzm. 141:2). Oleh karena itu, bau harum semerbak yang terus membubung dan memenuhi ruang kudus pada pagi dan petang melambangkan doa-doa yang senantiasa dipanjatkan kepada Tuhan.

Melalui persembahan bakaran, Israel mengabdikan dan menyucikan hidup dan tindakannya, tubuh dan jiwa bagi Tuhan. Melalui persembahan ukupan, umat menaikkan doa-doa kepada Tuhan. Persembahan ukupan bukan hanya tindakan merohanikan dan mengubah rupa persembahan bakaran, tapi juga penyempurnaan persembahan bakaran tersebut. Setiap tahun harus diadakan pendamaian terhadap mezbah pembakaran ukupan, dengan darah korban penghapus dosa. Hal ini melambangkan: umat Israel hanya bisa menghampiri Tuhan atas dasar penebusan dan pendamaian. Umat Israel juga hanya bisa menghadap Tuhan melalui perantaraan imam.

Hari ini, orang percaya tidak perlu lagi mempersembahkan korban pendamaian setahun sekali. Kristus telah menjadi korban pendamaian yang sempurna bagi orang percaya. Melalui pengorbanan Kristus, orang-orang percaya dilayakkan untuk menghadap Tuhan secara pribadi melalui doa, tanpa harus melalui perantara. Karena itu kita harus mengucap syukur dan menyadari bahwa doa adalah hak istimewa yang diberikan bagi tiap orang percaya. Jika demikian, akankah kita menyia-nyiakan hak istimewa itu? Sudahkah Saudara mengawali dan mengakhiri setiap hari dengan doa?

Official website : Bethany International Church (BIC Korea)