Janganlah Kamu Makan

Bacaan hari ini: Imamat 7:22-27
“Katakanlah kepada orang Israel: Segala lemak dari lembu, domba ataupun kambing janganlah kamu makan.” (Imamat 7:22)

 

Pepatah Tionghoa mengingatkan bahwa seluruh penyakit dapat muncul dalam kehidupan kita, melalui mulut kita. Artinya, pepatah ini ingin mengingatkan kita untuk menjaga dan mengendalikan diri kita terhadap segala sesuatu yang kita makan. Namun karena keserakahan, seringkali kita mengabaikan nasihat ini.

Bagian firman ini secara langsung memberikan sebuah prinsip yang terutama setiap kali diadakan korban persembahan, yaitu ada larangan jangan memakan lemak dan darah. Larangan ini hendak mengingatkan umat Allah bahwa: “Lemak (gemuk) yang tidak tercampur dengan daging binatang yang dipersembahkan untuk korban persembahan, dilarang untuk dimakan, karena inilah bagian yang paling subur dan penting dari binatang, inilah kepunyaan utama Allah” (Im. 3:16-17; 7:23-27). Demikian juga dengan darah, di mana dalam Perjanjian Lama dianggap (seperti dalam semua agama purba) sebagai tempat adanya hidup (Kej. 9:5; Im. 17:11). Oleh karena hidup adalah milik Allah, maka penggunaan darah dilarang keras (1Sam. 14:31-34; Kej. 9:3-4; mengenai tata-hukumnya lihat Im. 3:17; Ul. 12:23). Dari sudut lain juga dikenal adanya berbagai ritual keagamaan di Israel: Pada saat memerciki altar, darah dinyatakan sebagai milik Yahweh. Darah juga dipakai untuk mengadakan perdamaian (Ibr. 9:22) dan mengukuhkan ikatan perjanjian antara Yahweh dengan umat-Nya (Kel. 24:3-8).

Dengan demikian, melalui pembacaan bagian ini, kita sebagai umat Allah diingatkan untuk selalu menjaga kekudusan hidup dengan menjaga dan menghormati segala sesuatu yang menjadi milik Allah. Atau tidak dengan sembarangan kita memperlakukan apa yang menjadi milik Allah. Di sini, kita didorong untuk menghargai karya Kristus yang telah mencucurkan darah-Nya yang mahal, untuk mendamaikan kita dengan Allah. Puji Tuhan, Kristus telah memberikan yang terbaik untuk menyelamatkan hidup kita. Apakah yang sudah kita persembahkan sebagai yang terbaik untuk Tuhan kita?

Korban Penebus Salah

Bacaan hari ini: Imamat 7:1-10
“Inilah hukum tentang korban penebus salah. Korban itu ialah persembahan maha kudus.” (Imamat 7:1)

 

Persoalan yang menakutkan dalam kehidupan manusia adalah ketika diri kita sedang sakit, tetapi merasa tidak sakit (merasa baik-baik saja). Hal inilah yang membuat kita selalu merasa diri benar dan menghakimi akan kesalahan orang lain.

Pemahaman korban (persembahan) dalam kehidupan bangsa Israel merupakan sarana agar mereka terus-menerus mengoreksi diri sendiri, sehingga relasi antara dirinya sendiri dengan Allah tidak terganggu karena adanya dosa atau kesalahan yang dibuat oleh bangsa Israel. Oleh sebab itu, korban penebus salah menjadi salah satu bentuk korban yang sangat penting. Korban yang dilakukan adalah korban yang dipersembahkan kepada Allah berdasarkan kesadaran akan keadaan dirinya yang berdosa dan terhilang, dengan menaikkan permohonan beroleh pengampunan dan penebusan atas dosanya.

Kamus Alkitab memberikan dua prinsip yang mendasar tentang hakekat sebuah korban (persembahan) yang dilakukan, yaitu:

(1) Ditetapkan oleh Allah (Ibr. 11:4).

Berarti merupakan inisiatif dan cara yang diperkenan oleh Allah untuk menjaga relasi yang baik dan benar dengan pribadi Allah.

 

(2) Harus dipersembahkan kepada Allah saja (Kel. 22:20; Hak. 13:16; 2Raj. 17:36). Menunjukkan sikap yang menghormati dan menjunjung tinggi keberadaan Allah di tengah-tengah umat pilihan-Nya.

Karena dipersembahkan kepada Allah, ini berarti mengakui bahwa Ia adalah Allah satu-satunya yang hidup dan benar, tidak ada yang lainnya (2Raj. 5:17; Yun. 1:16).

 

Perjalanan hidup manusia, hari demi hari, tentunya tidak akan luput dari kesalahan yang diperbuat. Namun, yang perlu kita renungkan adalah apakah kita benar-benar menyadari bahwa kesalahan yang kita lakukan adalah kesalahan kepada Pribadi Allah sendiri.

Mari kita selalu dengan jujur untuk mengakui kesalahan kita di hadapan-Nya dan mohon pengampunan Nya. Sebab Tuhan kita, Yesus Kristus telah berkorban dan telah menyediakan pengampunan dosa bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya.

Dosamu Telah Diampuni

Bacaan hari ini: Imamat 5:14-6:7
“Imam itu haruslah mengadakan pendamaian bagi orang itu karena perbuatan yang tidak disengajanya dan yang tidak diketahuinya itu, sehingga ia menerima pengampunan…” (Imamat 5:18b-19)

 

Ada tiga jenis dosa yang dituliskan dalam bagian ayat yang hari ini kita akan renungkan bersama-sama (Imamat 5:14-6:7).

Yang pertama, dosa yang dilakukan dengan tidak sengaja (Im. 4:13).

Kedua, dosa melakukan salah satu hal yang dilarang TUHAN tanpa mengetahuinya (Im. 5:17).

Ketiga, dosa yang dilakukan dengan kesadaran penuh (Im. 6:2-3).

Tuhan tidak pernah mengkompromikan dosa. Dosa, baik yang dilakukan dengan tidak sengaja, atau tanpa tahu kalau hal tersebut adalah dosa, atau yang disengaja, semuanya mendatangkan hukuman dan murka Allah.

Semua manusia telah berdosa dan semuanya ada dalam penghukuman dan murka Allah. Meskipun demikian, karena kasih dari Allah Tritunggal, Allah merancangkan jalan supaya dosa umat manusia bisa diampuni dan dilepaskan dari hukuman dari Allah. Anak Allah sendiri menjadi manusia untuk menjadi korban penghapusan dosa.

Ibrani 10:12 dan 14 menyatakan, “Tetapi Ia (Yesus Kristus), setelah mempersembahkan hanya satu korban saja (Diri-Nya sendiri) karena dosa, Ia duduk untuk selama-lamanya di sebelah kanan Allah; Sebab oleh satu korban saja Ia telah menyempurnakan untuk selama-lamanya mereka yang Ia kuduskan.” Ketika kita percaya kepada Yesus Kristus dan karya pengorbanan-Nya, kita mendapatkan anugerah untuk dikuduskan oleh Tuhan, tidak lagi dengan status keberdosaan kita. Segala hukuman karena dosa kita telah ditanggung oleh Kristus di kayu salib dan kita bahkan memperoleh hidup yang kekal bersama Allah Tritunggal. Sebuah manifestasi dari kasih setia-Nya yang agung kepada setiap kita yang mau percaya kepada-Nya.

Oleh sebab itu, kita harus menaikan syukur kita kepada-Nya setiap waktu hidup kita. Hanya melalui anugerah dan pengorbanan Yesus Kristus atas kita dengan menjadikan diri-Nya korban yang sempurna di hadapan Allah, maka kita tidak lagi perlu melakukan ritual sebagaimana yang ditetapkan di dalam Perjanjian Lama.

Pengorbanan Dalam Relasi

Bacaan hari ini: Imamat 3:1-17
“Jikalau persembahannya merupakan korban keselamatan, maka jikalau yang dipersembahkannya itu dari lembu, seekor jantan atau seekor betina, haruslah ia membawa yang tidak bercela ke hadapan TUHAN.” (Imamat 3:1)

 

Untuk memelihara sebuah relasi, memerlukan pengorbanan. Untuk memiliki relasi yang baik dengan tetangga, kita perlu berkunjung ke rumahnya sesekali dan berkomunikasi. Untuk menjalani relasi yang baik dengan sahabat, kita perlu mengadakan makan malam bersama, memberi hadiah ultah dan lain sebagainya. Untuk memelihara sebuah relasi, kita harus berkorban.

Sama halnya dengan relasi umat Allah dengan Allah. Untuk menjaga relasi kita dengan Allah, kita perlu berkorban. Umat Israel dalam Imamat pasal 3 ini diperintahkan untuk memberikan korban keselamatan. Dalam bahasa Inggris disebut dengan fellowship offering, artinya persembahan yang diberikan kepada Tuhan sebagai ucapan syukur manusia dan untuk memelihara relasi antara manusia dengan Allah. Untuk memelihara relasi dengan Allah, umat-Nya harus berkorban memberikan korban hewan yang tidak bercela untuk Tuhan. Setelah dibakar, mereka akan membagi hasil bakaran persembahan ini bersama dengan Allah. Mereka memakan bagian-bagian tertentu dari persembahan itu dan Allah mengkhususkan lemak yang menyelubungi isi perut, lemak pada isi perut, kedua buah pinggang dan lemaknya dan umbai hati; kesemuanya harus dibakar habis untuk Tuhan (ay. 3-4; 9-10; 14-15). Melalui ritual makan persembahan bersama ini umat-Nya menyatakan kerinduan mereka untuk memiliki relasi yang baik dan damai dengan Allah. Untuk menjaga relasi dengan Allah, kita harus berkorban bagi Tuhan.

Bagaimana dengan pengorbanan kita untuk menjaga relasi yang baik dengan Tuhan hari ini? Mungkin kita tidak perlu membakar hewan untuk menjaga relasi yang baik dengan Tuhan hari ini, tetapi bukan berarti kita tidak perlu berkorban untuk untuk menjaga relasi kita dengan Allah.

Waktu adalah sesuatu yang perlu kita berikan kepada Tuhan. Untuk menjaga relasi dengan-Nya, kita perlu menyediakan waktu untuk bersaat teduh, berdoa dan membaca Alkitab. Maukah Anda secara konsisten datang kepada-Nya dan berdoa membaca firman-Nya?

Persembahan yang Berkenan

Bacaan hari ini: Imamat 1:1-17
“Apabila seseorang di antaramu hendak mempersembahkan persembahan kepada Tuhan, haruslah persembahanmu yang kamu persembahkan itu dari ternak, yakni dari lembu sapi atau dari kambing domba.” (Imamat 1:2)

 

Siapa bilang Tuhan berkenan atas semua persembahan umat-Nya? Siapa bilang kita boleh memberi persembahan sembarangan untuk Tuhan? Tuhan mencela umat Allah yang memberikan persembahan dengan tidak pantas dalam kitab Amos (5:22).

Tuhan menilai jahat perbuatan Israel yang memberikan persembahan dari hewan yang cacat dan buta dalam kitab Maleakhi (1:8). Kita tidak bisa sembarangan memberi persembahan kepada Tuhan. Tuhan punya standarisasi dan kriteria persembahan yang berkenan di hadapan-Nya. Itulah pesan dari Imamat pasal yang pertama ini. Tuhan menyatakan kepada umat Israel mengenai persembahan korban bakaran yang berkenan di hadapan-Nya. Sementara, manusia yang menyembah berhala mempersembahkan kepada ilah persembahan dengan menebak-nebak apa yang ilah mereka sukai, tapi umat Allah tidak. Allah menyatakan dengan gamblang kriteria persembahan korban bakaran yang Ia kehendaki. Persembahan yang diberikan kepada Allah haruslah persembahan yang tidak bercela, dipersembahkan di pintu kemah pertemuan, dan pemberi persembahan harus meletakkan tangan atas kepala korban, dan berbagai macam ritual yang sangat mendetail. Ada 24 kali kata “harus” diulang dalam 17 ayat dalam pasal ini menunjukkan bahwa Tuhan memiliki ketetapan dan kita tidak boleh memberi persembahan kepada-Nya dengan sembarangan.

Bagaimana kita memberikan persembahan? Apakah kita memberikan persembahan dengan sikap hormat dan telah memberikan yang terbaik? Jika kita memberikannya dengan sembarangan, bertobatlah. Sebab Tuhan memiliki kriteria persembahan yang Ia sukai dan berkenan di hati-Nya.

Melayani Tuhan

Bacaan hari ini: Keluaran 39:1-31
“Inilah daftar biaya untuk mendirikan Kemah Suci, yakni Kemah Suci, tempat hukum Allah, yang disusun atas perintah Musa, oleh orang Lewi di bawah pimpinan Itamar, anak imam Harun.” (Keluaran 38:21)

 

Bagian firman Tuhan hari ini masih berkaitan dengan hari kemarin, yaitu mengenai persiapan bangsa Israel untuk membuat kemah suci dan perkakas-perkakasnya. Kemarin kita belajar tentang Tuhan yang memperlengkapi umat-Nya untuk melayani Dia. Hari ini kita belajar hal yang kedua: perencanaan pelayanan untuk Tuhan.

Dinyatakan ada perencanaan akan biaya dan benda apa saja yang diperlukan untuk pembangunan kemah suci dan perkakasnya. Di sini kita melihat bahwa melayani Tuhan tidak dilakukan dengan sembarangan dan seenaknya, tetapi ada perencanaan dan perhitungan, terutama berkaitan dengan perlengkapan dan pembiayaan yang dibutuhkan. Allah memang Mahakuasa tetapi ini bukan berarti kita bisa seenaknya dalam kebutuhan pembiayaan. Allah memberikan hikmat dan karunia untuk memperhitungkan kebutuhan akan pelayanan bagi Dia dengan baik dan tepat.

Demikian juga dalam pelayanan kepada Tuhan pada masa sekarang. Kita merencanakan, kita menghitung biayanya, dan kita melaksanakannya. Terkadang kita melibatkan jemaat dalam mengumpulkan persembahan. Semua dilakukan sebagai wujud tanggung jawab dan kesungguhan kita untuk melayani Dia yang telah beranugerah dalam kehidupan kita. Agar jangan sampai kita menjadi seenaknya dan semaunya dalam melayani Dia, terutama dalam menggunakan dana yang ada. Dalam Keluaran 36:1-7 ditulis, ketika persembahan dari orang Israel untuk pembangunan kemah suci sudah begitu banyak dan berlebih, mereka diminta menghentikan memberi. Hal ini dilakukan agar jangan sampai persembahan itu menjadi terbengkalai dan tidak digunakan sebagaimana mestinya.

Firman Tuhan ini menjadi ingatan dan ajaran bagi kita yang melayani Tuhan. Kita memohon hikmat dan pertolongan Tuhan dalam merancang dan menghitung pembiayaan pelayanan Tuhan sebagai wujud tanggung jawab kita kepada Tuhan. Sehingga pelayanan kita menjadi berkat dan kita ditemukan Tuhan sebagai hamba yang setia yang sungguh bertanggung jawab terhadap apa yang dipercayakan padanya.

Pelataran Kemah Suci

Bacaan hari ini: Keluaran 38:9-20
“Dibuatnyalah pelataran itu; pada sebelah selatan: layar pelataran itu dari lenan halus yang dipintal benangnya, seratus hasta panjangnya.” (Keluaran 38:9)

 

Pada zaman PL, ketika umat Israel ingin datang beribadah kepada Tuhan, maka mereka hanya boleh masuk ke pelataran kemah suci, dengan membawa korban ke pintu gerbang pelataran. Pelataran kemah suci menjadi tempat yang sangat penting bagi umat Israel karena di sanalah batas terdekat bagi mereka untuk bisa mendekati hadirat Allah. Ini menyatakan kepada kita, betapa kudus dan sucinya Allah kita, sehingga umat tidak bisa sembarangan menghampiri-Nya.

Dalam Kel.38 ini kita bisa melihat bagaimana detilnya pembuatan dari pelataran itu, baik ukuran maupun bahan yang dipakai sesuai dengan yang ditetapkan oleh Tuhan dalam Kel. 27:9-19. Ini menunjukkan keseriusan Tuhan dalam pembuatan kemah suci, tempat dimana Ia akan menyatakan kehadiran-Nya. Tidak heran, kalau kehadiran umat di tempat ini merupakan sebuah pengalaman yang menggentarkan sekaligus luar biasa.

Namun, sekalipun umat Israel hanya boleh berada di pelataran kemah suci, tetapi dalam Mazmur 84, kita bisa melihat kerinduan mendalam dari umat Allah untuk bisa datang ke pelataran bait Allah. Berbeda sekali dengan umat Tuhan pada masa sekarang. Bersyukur karena melalui pengorbanan Tuhan Yesus di atas kayu salib, kita hari ini boleh berdiri di pelataran rumah Tuhan dan bisa masuk ke dalamnya serta beribadah. Namun demikian perasaan gentar dan rindu untuk menghampiri Tuhan dalam bait-Nya sekarang sudah mulai pudar. Banyak orang Kristen saat ini tidak lagi datang ke rumah Tuhan dengan mempersiapkan dirinya dengan sungguh-sungguh, dengan berpakaian sopan dan hormat kepada Tuhan, dengan sikap yang sungguh rindu mengalami kehadiran Tuhan. Ibadah menjadi sesuatu yang rutin dan tanpa makna.

Biarlah ketika kita merenungkan kembali kekudusan Tuhan, kita boleh bercermin dan memperbaiki diri, sudahkah kita sungguh mempersiapkan diri setiap kali kita datang kepada-Nya? Sudahkah kita menyatakan sikap hormat, sekaligus bersyukur karena kita diperkenankan boleh datang ke hadapan-Nya setiap saat? Kiranya Tuhan menolong kita semua.

Official website : Bethany International Church (BIC Korea)