Taat Sampai Tua

Bacaan hari ini: Kejadian 46:1-7
“Lalu firman-Nya: Akulah Allah, Allah ayahmu, janganlah takut pergi ke Mesir, sebab Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar di sana.” (Kejadian 46:3)

Menjadi tua itu pasti, tetapi taat sampai tua itu butuh diperjuangkan.

Hal yang indah, taat sampai tua adalah sebuah kualitas yang dimiliki seorang yang bernama Yakub. Ia memulai catatan kehidupannya dengan memegang tumit kakaknya dan diikuti dengan kisah konspirasi pencurian hak kesulungan bersama ibunya, Ribka. Namun Allah menjumpai Yakub, sebuah awal yang buruk diubah Allah menjadi perjalanan iman seorang bapa leluhur Israel, yang namanya bersanding dengan Abraham dan Ishak. Pemberontakannya kepada Allah berakhir dalam pergulatannya di sungai Yabok dan kemenangan iman membuat Allah merubah namanya menjadi Israel. Yakub menjadi seorang yang dengar-dengaran kepada Tuhan dan hidup di jalan yang benar. Dalam perikop yang kita renungkan hari ini, kita menyaksikan bagaimana di usia tuanya, Yakub mendengarkan suara Allah dan ia mentaati Allah. Allah berfirman kepadanya dalam sebuah penglihatan malam agar ia tidak ragu pergi ke Mesir menjumpai Yusuf dan berpindah ke sana. Yakub taat, ia berangkat dari Bersyeba bersama segala miliknya pergi ke tanah Mesir.

Taat sampai tua bukanlah hal yang mudah. Banyak orang di dalam perjalanan imannya yang menjadi kecewa, undur dari Tuhan dan berhenti melayani. Beban dan pergumulan hidup membuat orang lebih memilih karir dan kekayaan daripada setia dan melayani Tuhan. Kita memerlukan anugerah Tuhan dan komitmen untuk menjalin relasi yang dekat dengan Tuhan senantiasa, agar setiap kita bisa dijaga terus taat kepada Tuhan sampai masa tua.

Kita perlu terus-menerus peka akan suara Tuhan di dalam firman-Nya dan menjalin keintiman relasi di dalam doa. Firman dan doa adalah lem perekat relasi kita dengan Tuhan. Kedua hal ini menolong kita peka akan suara Tuhan dan taat kepada-Nya.

Pekerja yang Baik, Dikasihi Raja

Bacaan hari ini: Kejadian 45:16-28
“Jemputlah ayahmu dan seisi rumahmu dan datanglah mendapatkan aku, maka aku akan memberikan kepadamu apa yang paling baik di tanah Mesir…” (Kejadian 45:18)

Pada saat Yusuf menjadi hamba yang berakal budi, baik dan setia, raja berkenan dan mengasihi Yusuf. Perkenanan Yusuf bisa didapatkan karena ia menjadi seorang pekerja yang baik dan rajin bagi Firaun.

Pada saat Firaun mendengar bahwa saudara-saudara Yusuf datang (ay. 16), Firaun memerintahkan Yusuf untuk menjemput keluarga Yusuf, untuk berpindah di tanah Mesir. Bukan hanya berpindah, namun Firaun berjanji akan memberikan apa yang terbaik yang ada di Mesir untuk keluarga Yusuf. Bahkan di ayat 20, Firaun berkata “sebab apa yang paling baik di seluruh Mesir ini adalah milikmu.”
Begitu hangat sambutan Firaun dan begitu murah hatinya Firaun kepada Yusuf dan keluarganya. Kebaikan ini tidak lepas dari integritas Yusuf dan totalitas dari pekerjaan yang dilakukan Yusuf di tanah Mesir. Kehangatan dan berkat-berkat mengikuti kehidupan Yusuf setelah usaha maksimal dan kesetiaannya kepada raja.

Paulus menegur jemaat Tesalonika yang malas dengan teguran yang keras: “jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan” (1Tes. 3:10b).
Penulis Amsal juga memberikan nasihat kepada pemalas untuk “pergi kepada semut, perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak” (Ams. 6:6).

Kita dipanggil untuk rajin bekerja dan memaksimalkan segala kemampuan yang Tuhan berikan kepada kita.
Pada saat kita bekerja dengan baik, bukan hanya atasan yang disenangkan, tetapi Tuhan berkenan atas hidup kita yang produktif dan mencurahkan berkat atas hidup kita.

Kasih yang Mengampuni

Bacaan hari ini: Kejadian 44:18-45:15
“Jadi bukanlah kamu yang menyuruh aku ke sini, tetapi Allah; Dialah yang telah menempatkan aku sebagai bapa bagi Firaun dan tuan atas seluruh istananyadan sebagai kuasa atas seluruh tanah Mesir.” (Kejadian 45:8)

Bacaan firman Tuhan hari ini membukakan kepada kita alasan mengapa Yusuf dapat mengampuni saudara-saudaranya yang telah berbuat jahat kepada dia. Alasannya, bukan karena Yusuf telah mengalami semua kenyamanan, kemewahan, dan kehidupan yang baik dan berubah di Mesir. Alasannya juga bukan karena dia melihat bahwa keluarganya membutuhkan bahan makanan di tengah kondisi kelaparan yang melanda di sana. Tetapi karena Yusuf belajar melihat hidupnya di tengah-tengah penyertaan dan kedaulatan Tuhan. Tuhan tidak pernah meninggalkan dia, bahkan bekerja di dalam hidupnya untuk hal seperti yang dialaminya. Tiga kali Yusuf mengakui ini dalam percakapan dengan saudara-saudaranya.

Pertama adalah ketika dia membuka rahasia dirinya kepada saudara-saudaranya, dan mengakui bahwa Allahlah yang menempatkan dirinya di Mesir untuk memelihara kehidupan bangsanya.

Kedua adalah ketika dia meyakinkan bahwa bukan para saudaranya, tapi Allah yang menempatkan dia sebagai Perdana Menteri di Mesir.

Ketiga adalah ketika dia meminta saudaranya untuk menjemput ayahnya dan membawanya untuk tinggal di Mesir.

Yusuf sekali lagi menyatakan imannya bahwa Allahlah yang telah menempatkan dirinya sebagai tuan atas Mesir agar ayahnya jangan ragu untuk segera datang ke sana.

Belajar melihat hidup kita, baik itu peristiwa baik ataupun yang menurut kita buruk dan mencelakakan, di dalam penyertaan dan kedaulatan Tuhan, adalah hal yang diinginkan Tuhan atas kita. Hal ini akan mengubah banyak hal dalam kehidupan kita.

Melihat peristiwa yang baik di dalam penyertaan Tuhan, membuat kita tidak lupa diri dan selalu bersyukur, mau menghargai berkat Tuhan itu sebaik-baiknya. Melihat peristiwa yang tidak baik di dalam penyertaan Tuhan, akan mengingatkan kita bahwa Tuhan tidak sedang meninggalkan kita.

Marilah kita percaya bahwa Allah yang Mahatahu dan Mahabijaksana sanggup bekerja di dalam kehidupan kita, melampaui apa yang kita pikirkan dan rancangkan (Rm. 8:28; Mat. 5:16)

Kasih yang Mengampuni (1)

Bacaan hari ini: Kejadian 43:15-43
“Sesudah itu dibasuhnyalah mukanya dan ia tampil ke luar. Ia menahan hatinya dan berkata: Hidangkanlah makanan.” (Kejadian 43:31)

Peristiwa pertemuan Yusuf, ketika ia sudah menjadi Perdana Menteri Mesir, dengan saudara-saudaranya, penuh dengan berbagai kisah. Yusuf menahan Simeon dengan jaminan bahwa saudara-saudaranya akan membawa Benyamin datang di hadapannya. Benyamin pun dibawa ke hadapan Yusuf, sehingga ia tahu bahwa semua saudaranya masih dalam keadaan baik, demikian pula Yakub, ayahnya.

Namun lebih dari itu, pertemuan ini juga menunjukkan bahwa ternyata Yusuf bukanlah orang yang menyimpan dendam dan sakit hati karena telah dicelakakan saudaranya. Kita mengingat bagaimana Yusuf telah diperlakukan dengan kasar dan dijual sebagai budak sehingga akhirnya dia menjadi budak di Mesir, di rumah Potifar. Tidak disangka, Yusuf sekarang adalah penguasa nomor dua di Mesir. Jika mau, dia bisa berbuat apa saja kepada mereka. Apalagi, mereka sudah tidak lagi mengenali Yusuf. Tetapi yang terjadi adalah, Yusuf melakukan kebaikan demi kebaikan sambil tetap berusaha menjaga rahasia dirinya lebih dahulu.

Pertama, Yusuf, melalui para pegawainya, mengembalikan uang pembayaran saudaranya ketika membeli gandum.

Hal ini sempat membuat takut para saudaranya karena mereka mungkin akan dituduh mencuri dan akan ditahan untuk menjadi budak di Mesir (ay. 18).

Kedua, Yusuf menjamu saudara-saudaranya di tempat kediamannya. Ini adalah satu hal yang luar biasa bagi para saudara Yusuf, yaitu dijamu oleh pejabat besar di Mesir. Sehingga mereka sempat terheran-heran dengan kondisi ini (ay. 33).

Kisah ini ingin menunjukkan dan mengajarkan kepada kita tentang pengampunan, terutama terhadap saudara sendiri. Sering kita mendengar kisah tentang saudara yang saling menyakiti, saling mencelakakan, bahkan saling membunuh karena sakit hati atau memperebutkan harta.
Tetapi, sebagai orang percaya hendaknya kita belajar untuk saling mengampuni terhadap saudara kita. Salah satunya adalah tidak membalas hal yang jahat, tetapi justru melakukan apa yang baik dan yang dibutuhkan saudara kita tersebut. Kiranya Tuhan menolong kita!

Berserah kepada Tuhan

Bacaan hari ini: Kejadian 43:1-14
“Allah yang Mahakuasa kiranya membuat orang itu menaruh belas kasihan kepadamu… Mengenai aku ini, jika terpaksa aku kehilangan anak-anakku, biarlah juga kehilangan!” (Kejadian 43:14)

Kelaparan yang terjadi ternyata terus berkelanjutan sehingga gandum yang dibawa dari Mesir itupun habis. Maka Yakub menyuruh anak-anaknya kembali ke Mesir untuk membeli sedikit bahan makanan, tapi Yehuda mengatakan bahwa mereka hanya bisa kembali jika Benyamin ikut bersama mereka, karena itulah yang diperingatkan oleh penguasa Mesir itu. Maka dengan berat hati Yakub pun mengijinkan.

Yakub meminta anak-anaknya untuk membawa hasil yang terbaik dari negerinya, juga membawa persembahan: balsam, madu, damar dan damar ladan, buah kemiri dan buah badam, serta membawa uang dua kali lipat. Demikianlah Yakub berusaha semaksimal mungkin menyenangkan hati penguasa Mesir itu, agar mereka diperkenan membeli gandum dan anak-anaknya bisa kembali dengan selamat. Setelah itu katanya: “Allah yang Mahakuasa kiranya membuat orang itu menaruh belas kasihan…” Kalimat Yakub ini menunjukkan bahwa ia menyadari bahwa semua usaha akan sia-sia bila Allah tidak ikut campur tangan. Yakub melakukan sebaik mungkin apa yang bisa ia lakukan, tetapi pada saat yang sama ia tidak lupa mempercayakan semuanya kepada Tuhan yang berkuasa.

Sikap Yakub ini menjadi satu pelajaran penting bagi kita, bahwa ketika menghadapi kesulitan dan masalah, kita tetap harus melakukan bagian kita dengan maksimal yakni berusaha, dan pada saat yang sama menyerahkan semuanya ke dalam tangan pimpinan Tuhan. Banyak orang Kristen pada masa sekarang ini yang jatuh pada dua ekstrem. Yang pertama, tidak mau berusaha sama sekali dan berkata bahwa mereka mau berserah kepada Tuhan. Yang kedua, orang yang terus berusaha dengan caranya sendiri, tetapi melupakan Tuhan dalam usahanya. Tentu saja Tuhan tidak ingin kita jatuh dalam salah satu ekstrem di atas.

Kiranya Tuhan menolong kita untuk mengerti bahwa berserah bukan berarti pasrah. Berserah kepada Tuhan berarti mempercayakan kepada-Nya apa yang tidak bisa kita kerjakan dan setia melakukan apa yang bisa kita kerjakan.

Jangan Lupa Kebaikan Orang

Bacaan hari ini: Kejadian 40:1-23
“Tetapi Yusuf tidaklah diingat oleh kepala juru minuman itu, melainkan dilupakannya.” (Kejadian 40:23)

 

Sdr, Juru minum raja Firaun berjanji akan membalas budi baik Yusuf yang menafsirkan mimpinya saat di penjara. Ia dilepaskan dari penjara dan mendapatkan pekerjaannya lagi sebagai pelayan raja. Wajarlah bila Yusuf berharap orang itu akan mengingat dan membantunya setelah dibebaskan dari penjara (ay. 14). “Mungkin dengan cara inilah Tuhan akan membebaskanku dari semua penderitaan ini,” pikir Yusuf. Tapi, janji tinggal janji, juru minum itu ternyata melupakannya. Wajar jika Yusuf kecewa! Wajar jika Yusuf marah!

Namun, Yusuf tidak berfokus kepada kekecewaannya sehingga dia bisa terus menjalani kehidupannya bersama Tuhan. Ia tahu bahwa Tuhan adalah hakim yang benar, yang berhak menentukan mana yang baik dan benar. Meskipun juru minuman melupakan Yusuf, Tuhan tidak akan pernah melupakannya. Yusuf senantiasa berharap dan bersandar kepada Tuhan sehingga akhirnya pun ia dibebaskan dan menjadi penguasa Mesir.

Bisa jadi Tuhanlah yang membuat juru minuman itu melupakan Yusuf. Mengapa? Supaya Yusuf belajar hanya berharap kepada Tuhan. Ketika kita menolong, Tuhan menghendaki agar kita melakukannya dengan tulus, bukan berharap balas budi.

Saat kita dirundung masalah, pengharapan kita tetap pada Tuhan, bukan pada orang yang pernah kita tolong. Bagaimana dengan Anda?

Jangan lupakan kebaikan orang lain, dan tetap bersandar pada Tuhan dalam keadaan apapun.

Pahit dan Manis

Bacaan hari ini: Kejadian 39:1-23
“Tetapi TUHAN menyertai Yusuf, sehingga ia menjadi seorang yang selalu berhasil dalam pekerjaannya; maka tinggallah ia di rumah tuannya, orang Mesir itu.” (Kejadian 39:2)

Dalam perjalanan hidupnya, Yusuf diizinkan Tuhan untuk mengalami berbagai pengalaman pahit, pengalaman yang secara manusiawi tidak menyenangkan atau tidak disukai. Pengalaman seperti apa? Pengalaman ditolak oleh saudara sendiri (ay. 2), pengalaman tidak disapa dengan ramah oleh saudara sendiri (ay. 4), pengalaman dianggap sebagai pembual (9-10), pengalaman dijual kepada pedagang Midian-orang Ismail, pengalaman menjadi narapidana (ay. 20). Sepintas, kita akan berkomentar bahwa Yusuf adalah orang yang telah ditinggalkan oleh Tuhan. Mengapa? Karena terlalu banyak pengalaman pahitnya tidak dibela Tuhan. Benarkah demikian? Bagaimana pengalaman pahit dapat berubah menjadi sebuah perjalanan iman yang berharga.

Marilah kita belajar dari Yusuf.

Pertama, penyertaan Tuhan adalah segala-galanya (ay. 2 dan 21).

Perhatikan ayat Firman Tuhan ini. Ada hubungan yang sangat erat antara keberhasilan dalam pekerjaan dengan penyertaan Tuhan. Itulah keberhasilan yang sejati.

Kedua, keberhasilan tanpa integritas akan mudah hancur (ay. 7 dan 8).
Integritas adalah menyatunya kata dan perbuatan, atau menyatunya iman di dalam tindakan nyata. Keberhasilan merupakan anugerah Allah. Tetapi, pada tingkat tertentu, keberhasilan menjadi jerat yang membuat dia lupa diri.
Karena itu, keberhasilan yang sejati harus disertai dengan integritas yang teruji.

Alkitab memberitahukan kita, bahwa Yusuf diuji integitasnya dalam hal wanita. Bagaimana dengan kita?

Official website : Bethany International Church (BIC Korea)