Menyadari Kehadiran Tuhan

Bacaan hari ini: Kejadian 28:9-22
“…Sesungguhnya TUHAN ada di tempat ini, dan aku tidak mengetahuinya.” (Kejadian 28:16)

Dalam momen dan tempat yang tidak terduga oleh Yakub, Tuhan mendatangi dan menyatakan diri kepada Yakub. Tuhan mengulangi kovenan-Nya kepada Abraham (Kej. 12:2-3), sekarang diteruskan kepada Yakub (ay. 13-15), sebagai orang pilihan Tuhan. Tuhan berjanji akan memberkati Yakub dan akan selalu menyertainya.

Saat itu, Yakub menyadari, sesungguhnya TUHAN ada bersamanya. Awalnya, Yakub tidak sadar bahwa TUHAN telah menyertainya, sekalipun banyak kesalahan telah dilakukannya. Momen perjumpaan Yakub dengan TUHAN, menjadi momen penting dalam hidup Yakub. Yakub barulah mengenal TUHAN secara pribadi, Yakub barulah mengalami TUHAN secara pribadi. Yakub barulah menyadari kehadiran TUHAN di tengah-tengah ketidak-pastian hidupnya ke depan. Semua itu dialami Yakub, pada saat dia keluar dari zona nyaman dalam hidupnya.

Allah selalu hadir, mendiami hati kita, sejak Roh Kudus ada di dalam diri kita. Allah selalu menyertai dan tinggal bersama dengan diri kita (Mat. 28:20).
Salah satu contoh kehadiran Tuhan dalam hidup kita adalah pada saat kita membaca Alkitab dan merenungkannya. Tuhan masih berkenan menyatakan diri-Nya kepada kita melalui firman-Nya, Tuhan menyatakan kehadiran-Nya dalam hidup Saudara juga. Kehadiran TUHAN ini penting untuk kita sadari dan alami dalam hidup keseharian.
Dengan menyadari kehadiran TUHAN, kita akan diteguhkan untuk menghadapi hidup yang tidak pasti ini. Dengan mengalami kehadiran TUHAN, kita akan dikuatkan untuk hidup kudus di hadapan TUHAN, karena kita tahu bahwa Allah yang kudus selalu hadir dalam hidup kita. Kitapun ingin menjadikan hidup kita, kudus di hadapan-Nya.

Tapi masalahnya, kita sering mengabaikan kehadiran-Nya; sehingga ada kalanya, Tuhan harus membawa kita keluar dari zona nyaman kita, barulah kita menyadari TUHAN hadir dalam hidup kita.

Sebagai anak-anak Tuhan, mohonkanlah kepekaan dari TUHAN untuk menyadari dan mengalami kehadiran TUHAN dalam setiap aspek hidup kita.

Memilih Pasangan Hidup Versi Alkitab

Bacaan hari ini: Kejadian 28:1-8
“Sebab itu ia pergi kepada Ismael dan mengambil Mahalat menjadi istrinya, di samping kedua istrinya yang telah ada…” (Kejadian 28:9)

Kejadian 27:46 sampai 28:1 mengisahkan bahwa Ishak dan Ribka tidak menyukai perempuan-perempuan Het, yang menjadi istri-istri Esau. Karena itu, Ishak dan Ribka menyuruh Yakub pergi. Selain untuk menghindari pembunuhan yang sudah direncanakan Esau, adalah agar Yakub tidak mengambil perempuan-perempuan Kanaan sebagai istrinya, tetapi mengambil seorang dari anak-anak Laban, yang masih sanak saudara mereka, untuk menjadi istrinya.

Ketika Esau melihat dan mengetahui bahwa Ishak dan Ribka tidak menyukai kedua istrinya, karena mereka berasal dari Kanaan, maka Esau mengambil langkah selanjutnya untuk mengambil hati Ishak dan Ribka. Dia mengambil istri yang ketiga, yaitu Mahalat, anak Ismael. Tidak diceritakan selanjutnya, apakah Ishak dan Ribka menyukai Mahalat, istri ketiga Esau ini. Tetapi satu hal yang kita tahu, Esau bukanlah seorang yang melibatkan Tuhan dalam pemilihan istri dalam hidupnya. Esau tidak terlebih dahulu mencari tahu apa kehendak Tuhan, apa kriteria seorang istri baginya. Esau hanya melakukan apa yang menjadi kehendaknya, dan yang menyenangkan hatinya.
Pada kali ketiga, ketika mengambil istri pun, Esau pun mengambil langkah penyelesaian sesuai dengan kehendaknya, mengambil istri ketiga dari Ismael, bukan dari kaum Kanaan lagi. Esau adalah cerminan seorang manusia yang tidak melibatkan Tuhan dalam memilih pasangan hidupnya.

Tuhan ingin dalam memilih pasangan hidup, kita melibatkan-Nya. Bagi saudara yang sedang bergumul mencari pasangan, libatkanlah Tuhan.

Mintalah hati yang peka untuk melihat apakah pasanganmu adalah memang dari Tuhan untuk Saudara, apakah pasanganmu sungguh bisa menjadi pasangan dalam memenuhi rencana Tuhan dalam hidup Saudara.

Akibat Dosa yang Berkepanjangan

Bacaan hari ini: Kejadian 27:41-46
“Esau menaruh dendam kepada Yakub karena berkat yang telah diberikan oleh ayahnya kepadanya…” (Kejadian 27:41)

Dendam yang dimiliki oleh Esau kepada Yakub tentu ada historinya. Berawal dari Esau yang menjual hak kesulungannya, hanya karena perut lapar, sampai kepada peristiwa Yakub menipu Ishak, untuk mengambil berkat yang sebenarnya diperuntukkan bagi Esau.

Dendam kesumat ini berkembang menjadi rencana untuk melakukan dosa pembunuhan, Esau berniat membunuh Yakub. Esau tidak peduli lagi kalau Yakub itu adalah adik kandungnya, saudara satu bapak dan satu ibu dengannya. Dalam pikiran dan perasaan Esau, hanya membalas dendam, dengan cara menghabisi Yakub.

Sebenarnya dendam dalam diri Esau bisa diselesaikan dengan cara menyenangkan Tuhan. Jika Esau menyadari dirinya sudah meremehkan hak kesulungannya, sehingga dia mau menjual hak kesulungan itu hanya demi semangkuk sup dari Yakub, maka Esau tidak akan sampai menaruh dendam, apalagi merencanakan pembunuhan terhadap Yakub. Dengan jalan demikian, sebenarnya Esau bisa menyelesaikan kebenciannya terhadap Yakub. Tetapi Esau memilih untuk mengembangkan dosa kebencian dalam dirinya, yang berakhir pada rencana membunuh Yakub.

Tidak ada seorangpun dari kita yang kebal terhadap sakit hati. Dengan mudah orang lain bisa menyakiti diri kita. Sakit hati yang terlihat ringan, bisa berkembang menjadi kebencian. Kebencian bisa bertumbuh menjadi dendam. Dendam bisa bertumbuh menjadi dosa lain, yang bisa menyakiti sesama kita.

Kristus sudah mati untuk menghapus dosa kita. Kematian Kristus menyatakan bahwa Allah mengampuni dosa-dosa kita. Allah adalah Pribadi yang paling layak menghukum kita karena dosa kita, tapi Allah mau mengampuni kita.

Siapalah kita, jika kita tidak mau mengampuni sesama yang menyakiti hati kita, padahal Allah sudah mengampuni kita.

Mintalah anugerah dari Tuhan, untuk boleh menyelesaikan setiap kebencian dan dendam dalam hati kita. Kiranya kasih Kristus yang sudah mengampuni dosa kita, menguasai hati kita, sehingga kita bisa mengasihi sesama kita, yang bersalah pada kita.

Yakub Diberkati, Esau Menyesal

Bacaan hari ini: Kejadian 27:1-40
“… Sesudah Esau mendengar perkataan ayahnya itu, meraung-raunglah ia dengan sangat keras dalam kepedihan hatinya…” (Kejadian 27:34)

Pada hari tuanya, Ishak berencana untuk memberi berkatnya kepada Esau. Betapapun, Esau adalah anak sulung. Tetapi istrinya Ribka mengetahui itu dan menyusun suatu rencana lain. Kita tidak tahu persis mengapa Ribka melakukan itu; menyiasati Ishak. Tetapi bukan tidak mungkin, sang ibu lebih mengenal kedua anaknya itu. Sejak Esau menolak nasehat dan bersikukuh mengawini perempuan Het, Ribka melihat dengan jelas kualitas dari anak sulungnya Esau. Bukan tidak mungkin bahwa Ribka menyadari sesuatu yang lebih dalam berkaitan dengan berkat yang akan disampaikan Ishak. Dia meyakini di dalam hati; Yakublah yang layak mendapatkan berkat itu.

Maka Ribka menjalankan sebuah strategi yang tepat supaya Yakublah yang menerima berkat dari Ishak. Pada awalnya, ada keraguan pada diri Yakub untuk membohongi ayahnya, tapi kemudian dia mengikuti semua saran ibunya Ribka. Mungkin dia teringat bahwa Esau sudah menjual hak kesulungannya beberapa tahun lalu, jadi secara prinsip dialah yang berhak diberkati ayahnya. Suatu stigma telah dilekatkan atas dirinya, bahwa dia adalah seorang penipu karena dia pernah mengakali kakaknya, dan kini dia mencoba mengakali ayahnya, dan dia berhasil. Tetapi Yakub juga bisa dilihat sebagai seorang pria tipikal yang cerdik melihat peluang dan berani bertindak memanfaatkan kesempatan. Dan acap kali dia berhasil.

Yakub telah mendapatkan doa berkat, dan kini datanglah Esau dengan penuh harapan. Dia melakukan apa yang ayahnya minta kepadanya, dia membawa hasil buruannya, mengolahnya menjadi makanan kesukaan ayahnya dan membawanya kepada Ishak. Tapi Esau harus menghadapi satu kenyataan menyakitkan, adiknya telah merebut berkat itu. Dia sangat marah dan sakit hati, tetapi bagaimanapun, dia sudah menjual hak kesulungan kepada adiknya. Kesalahan Esau, sah adanya (Ibr. 12:16-17). Hak kesulungan adalah hak istimewa seorang anak laki-laki sulung dalam budaya Ibrani. Hak kesulungan akan mendatangkan doa berkat atas hidupnya, bukan hanya secara materi, tapi kebahagiaan hidup.

Esau: Laki-Laki yang Hidup Sembarangan

Bacaan hari ini: Kejadian 26:34-35
“Kedua perempuan itu menimbulkan kepedihan hati bagi Ishak dan bagi Ribka.” (Kejadian 26:35)

Di tengah-tengah kisah kehidupan Ishak yang cemerlang, tiba-tiba muncul catatan tentang Esau yang mengambil perempuan bangsa Het menjadi istri-istrinya, dan ini menimbulkan kekecewaan yang sangat besar bagi kedua orang tuanya, sampai tahap kepedihan. Betapa tidak! Abraham, kakeknya, begitu serius dalam pernikahan Ishak, ayahnya, sampai-sampai Abraham mengutus dengan sangat serius, salah seorang hamba pribadinya untuk pergi kepada keluarga saudaranya, mencarikan seorang istri bagi Ishak. Esau pasti tahu cerita romantik antara ayahnya dengan Ribka, ibunya. Tapi dia tidak belajar dari orang tuanya, dia malah meremehkannya. Tapi begitulah Esau.

Beberapa tahun yang lalu, dia menjual hak kesulungannya kepada Yakub demi semangkok kuah kacang merah, dia memandang ringan hak kesulungannya (ps. 25:34). Dia mengabaikan peraturan dan tata krama yang berlaku, menganggep enteng hal-hal yang serius. Itu nampak sejak dia menjual hak kesulungannya yang bisa sangat menentukan perjalanan hidupnya sampai hari tua. Yakub memang licik, tapi Esau adalah orang yang hidup sembarangan, meremehkan hal-hal yang penting, yang serius.

Dia adalah keturunan Abraham yang ke-3, seharusnya dia tahu kisah hidup kakek dan ayahnya. Kakeknya, Abraham, adalah orang yang dipilih khusus oleh TUHAN untuk mengikat perjanjian dengannya, bahwa Abraham dan keturunannya menjalani suatu peran yang sangat penting dalam sejarah. Oleh keturunannya, semua bangsa di muka bumi ini akan diberkati! (Kej. 12:2-3; 26:4-5). Allah sedang berkarya melalui keluarga mereka, lewat keturunan Abraham. Tapi Esau meremehkan semua itu.

Mungkin saja, dia menyampaikan keinginannya kepada orang tuanya, dan Ishak mengingatkan Esau pentingnya menjaga garis keturunan sesuai perjanjian dengan TUHAN. Tetapi Esau tidak menghiraukannya. Dia hidup sembarangan, mengabaikan perjanjian dengan Allah.
Bagaimana dengan Saudara?

Kharisma Orang yang Diberkati Tuhan

Bacaan hari ini: Kejadian 26:26-33
“Lalu pada malam itu TUHAN menampakan diri kepadanya serta berfirman: Akulah Allah ayahmu Abraham; jangan takut…” (Kejadian 26:24)

 

Di tengah-tengah masa kelaparan, TUHAN memberkati Ishak di negeri Filistin sehingga dia menjadi sangat kaya, dan itu membuat Abimelekh–raja Filistin, merasa kuatir dan takut tersaingi sehingga dia meminta supaya Ishak pergi meninggalkan negerinya. Tetapi setelah Ishak pergi dari negeri Filistin, Abimelekh datang menyusul. Ini pasti suatu usaha yang cukup besar; dia harus bertanya kepada orang-orang, informasi tentang Ishak dan keluarganya, ke mana mereka telah pergi. Dia mencari dari satu tempat ke tempat lain, sampai akhirnya bertemu Ishak di Bersyeba.

Kedatangan Abimelekh mungkin membuat Ishak was-was, ada apa gerangan di balik kedatangannya? Apakah Abimelekh tidak rela dia telah memperoleh kekayaan yang banyak di negeri Filistin, sehingga Abimelekh datang untuk menuntut pembagian dengan alasan “pajak”? Atau dia datang untuk alasan lain yang lebih buruk? Tapi, bukan itu alasannya Abimelekh datang. Abimelekh datang justru karena dia takut kalau-kalau Ishak akan melakukan sesuatu yang buruk terhadap dirinya. Dia tahu bahwa Ishak adalah orang yang disertai TUHAN! Dan karena itu dia menjadi takut, kalau-kalau dia yang telah melakukan sesuatu yang salah dan mencelakakan dirinya sendiri, bahkan negerinya. Dia datang bukan untuk melakukan hal yang buruk kepada Ishak, tapi justru untuk mengadakan perjanjian damai.

Reputasi TUHAN sebagai Allah orang Israel telah lama dikenal mulai dari Mesir sampai bangsa-bangsa di tanah Kanaan. Abimelekh telah menyaksikan sendiri bagaimana Allah memberkati Ishak dengan istri yang cantik, dan melindungi mereka di negeri asing, memberkati apa yang Ishak tabur, meskipun di tengah-tengah musim kekeringan (ay. 12). Apabila TUHAN ada di pihak Ishak, menyertai dia, maka tidak ada pihak manapun yang sanggup mengalahkannya. Dari kehidupan seorang yang disertai TUHAN, terpancar kharisma dan wibawa yang menimbulkan rasa kagum, hormat sekaligus rasa takut.

Bagaimana dengan kita? Mari kita sertakan TUHAN dalam seluruh aspek hidup kita.

Tantangan dan Berkat Tuhan

Bacaan hari ini: Kejadian 26:12-25
“Maka menaburlah Ishak di tanah itu dan dalam tahun itu juga ia mendapat hasil seratus kali lipat; sebab ia diberkati TUHAN.” (Kejadian 26:12)

Kita tidak pernah dapat menduga berkat-berkat yang Tuhan berikan kepada kita; kapan itu akan dinyatakan-Nya dan berapa besar yang Ia berikan kepada kita. Namun percayalah bahwa Dialah Sumber berkat bagi umat-Nya. Demikian pula dengan berkat yang Tuhan berikan kepada Ishak.

Di tengah situasi sulit, satu-persatu Tuhan membukakan jalan keluar bagi Ishak. Selain lepas dari bahaya kelaparan dan ancaman pembunuhan, Tuhan juga memberinya berkat. Ketika ia bercocok tanam di daerah Gerar, Alkitab mencatat, bahwa “ia mendapatkan hasil seratus kali lipat;” dan keberhasilan itu dipertegas karena “ia diberkati oleh TUHAN” (Kejadian 26:12). Nampaknya segala usahanya, dibuat TUHAN menjadi berhasil; dan TUHANlah yang menjadi sumber berkat bagi Ishak.

Dalam hidup kitapun, sesungguhnya kita harus menyadari, bahwa kita berhasil, itu bukan karena kemampuan kita, tetapi karena berkat TUHAN. Ialah yang memberi kita “keberhasil demi keberhasilan.” Maka, janganlah menjadi sombong tatkala kita berhasil, melainkan bersyukurlah kepada Tuhan dan hiduplah rendah hati di hadapan-Nya.

Di tengah berkat yang Ishak terima, bukan berarti hidupnya lepas dari permasalahan. Karena keberhasilannya itu, Abimelekh memintanya untuk meninggalkan Gerar; bahkan ketika Ishak berpindah tempat di lembah Gerar, para gembalanya berebut air dengan gembala lokal. Tetapi Ishak tetap bersikap tenang dalam menghadapi semua itu, tidak menjadi arogan dan tinggi hati, sekalipun telah menjadi kaya. Ia membiarkan sumur yang digalinya diklaim para gembala setempat. Kemudian ia berpindah tempat dan menggali sumur di tempat yang lain. Di situ ia menemukan air; dan ia menamai tempat itu “Rehobot,” karena TUHAN telah memberikan kelonggaran dan berkat-Nya kepada mereka. Bagaimana dengan kita?

Di tengah tantangan, janganlah berputus asa, sebab ada Tuhan yang menjadi sumber berkat bagi kita. Sebaliknya, lakukanlah yang terbaik, hiduplah rendah hati dan teruslah berjuang dalam iman.

Official website : Bethany International Church (BIC Korea)